Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kuburan Massal Ditemukan di Basis Terakhir ISIS

Kamis 28 Feb 2019 19:51 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Gerakan ISIS (ilustrasi)

Gerakan ISIS (ilustrasi)

Foto: VOA
Sebagian besar jasad yang ditemukan adalah perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, DEIR AL-ZOR -- Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang mengepung benteng pertahanan terakhir ISIS di Suriah menemukan pemakaman massal berisi puluhan jasad diduga warga suku minoritas Yazidi. Sebagian besar jasad yang ditemukan di daerah Baghouz itu adalah perempuan. "Mereka dibantai," kata komandan SDF Adnan Afrin, Kamis (28/2). 

Afrin mengatakan sebagian besar kepala jasad-jasad itu dipenggal. SDF masih berusaha mengkonfirmasi apakah jasad-jasad itu memang milik anggota masyarakat minoritas Yazidi.

Ribuan orang suku Yazidi diyakini menjadi budak anggota ISIS. Mereka mengambil perempuan suku-suku Yazidi di Irak dan membawa mereka ke Suriah pada tahun 2014.

PBB mengatakan ISIS melakukan genosida dengan membunuh 3.000 orang suku Yazidi. Ribuan orang Yazidi melarikan diri dengan berjalan kaki.

Saat ini banyak dari mereka yang masih bermukim di tenda-tenda pengungsian setelah empat tahun mengungsi. SDF yang menjadi rekan utama pasukan AS melawan ISIS di Suriah telah mencoba mengevakuasi ribuan warga sipil dari Baghaouz.

Sebelum mereka melancarkan serangan dan meminta sisa-sisa pasukan ISIS untuk menyerah. Menurut SDF sebagian besar anggota ISIS tersebut adalah orang asing.
Sebelumnya sebanyak 24 pasukan SDF yang ditahan ISIS sudah dibebaskan. Belum diketahui bagaimana mereka bisa dibebaskan.

Selama beberapa pekan terakhir ribuan orang dari berbagai negara keluar dari daerah kekuasan terakhir ISIS di Suriah. Mereka yang keluar dari sana adalah pendukung atau korban ISIS yang membuat deklarasi kemenangan atas ISIS di Suriah sempat tertunda.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA