Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Rakyat Aljazair Tuntut Presiden Boutefika Segera Mundur

Selasa 12 Mar 2019 19:41 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika pada 2014.

Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika pada 2014.

Foto: (AP Photo/Sidali Djarboub
Rakyat Aljazair tak puas dengan sikap Boutefika.

REPUBLIKA.CO.ID, ALJIR -- Rakyat Aljazair terus melakukan unjuk rasa meminta Presiden Abdelaziz Boutefika untuk turun dari jabatannya. Sebelumnya rakyat hanya meminta Boutefika untuk menarik pencalonannya dalam pemilihan presiden pada  April mendatang.

Baca Juga

Di Tlemcen, rumah Boutefika, sekitar 540 kilometer dari ibukota Aljir, warga merayakan keputusan Boutefika untuk tidak maju dalam pemilihan presiden untuk periode kelimanya. Mereka menari dan membunyikan klason di jalan-jalan.

"Unjuk rasa akhirnya terbayarkan, ini kemenangan kecil rakyat Aljazair atas rezim," kata Mohamed, laki-laki 27 tahun yang ikut membunyikan klason mobilnya kepada Aljazirah, Selasa (12/3).

Ratusan rakyat Aljazair berkumpul di Audin Square, Aljir. Boutefika yang telah berkuasa selama berpuluh-puluh tahun di Aljazair diterpa gelombang protes selama tiga pekan terakhir.

Rakyat Aljazair meminta Boutefika untuk membatalkan rencananya maju dalam pemilihan presiden bulan April mendatang. Pada Senin (11/3) malam waktu setempat ia mengumumkan tidak akan kembali maju dalam pemilihan yang rencananya digelar pada 18 April. Tapi pemilihan tersebut ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Presiden berusia 82 tahun itu merilis sebuah surat kepada rakyat Aljazair yang dipublikasikan kantor berita Algeria Press Service (APS). Surat ini dirilis setelah ia kembali dari Swiss untuk menjalani pemeriksaan medis rutin selama dua pekan.

"Tidak ada masa jabatan kelima, hal itu tidak pernah menjadi pertanyaan bagi saya, dengan kondisi kesehatan dan usia saya, tugas terakhir saya kepada rakyat Aljazair adalah selalu berkontribusi untuk membangun fondasi republik yang baru," kata Boutefika. 

Menurut pesan yang disampaikan Boutefika, konferensi independen dan inklusif akan mengawasi proses peralihan kekuasaan, perancangan undang-undang konstitusi yang baru dan menyiapkan tanggal pemilihan umum baru.

Konferensi yang akan menyelesaikan tugasnya pada akhir 2019 itu akan menyerahkan konstitusi baru untuk ditentukan rakyat Aljazair dalam sebuah referendum. 

Setelah Boutefika mengumumkan tidak akan maju lagi dalam pemilihan presiden, Perdana Menteri Ahmed Ouyahia mengundurkan diri. Ia digantikan Nourredine Bedoui, orang dekat Boutefika yang telah menjadi menteri dalam negeri sejak 2015 lalu.

Sementara itu mantan Menteri Luar Negeri dan sekutu dekat Boutefika,  Ramtane Lamamra menjadi Deputi Perdana Menteri. Jabatan yang dibuat pada hari di mana Boutefika mengumumkan tidak akan maju lagi dalam pemilihan presiden.

Tapi Boutefika yang sudah terlalu lama memimpin Aljazair gagal menanggapi permintaan pengunduran diri dari rakyatnya. Boutefika sendiri sudah sangat jarang tampil di hadapan publik sejak terserang stroke pada tahun 2013 lalu.

"Ini bukan kemenangan bagi rakyat karena langkah Boutefika tidak konsisten dengan keinginan rakyat. Kami meminta ia mengundurkan diri, untuk demokrasi dan untuk undang-undang negara, dan untuk pergantian rezim yang riil," kata pendiri organisasi non-profit Warda Project, Abderrahmane.

Seorang fotographer Liasmine juga tidak puas dengan pengumuman Boutefika. Karena rakyat ingin Boutefika segara mengundurkan diri.  "Apa yang ia tulis sudah kami tolak sebelumnya, ia memperlakukan kami seperti orang bodoh," kata Liasmine.

Pada 3 Maret lalu setelah ia mengajukan dokumen pencalonannya, Boutefika mencoba untuk menenangkan rakyat Aljazair dengan berjanji akan menggelar konferensi dialog nasional.

Ia juga berjanji mengubah konstitusi, dan menggelar pemilihan umum dalam waktu satu tahun. Ia berjanji tidak akan maju lagi tapi lalu berubah pikiran.

"Kami ingin rezim yang sekarang ambruk, saya tidak percaya dengan penjaga tua untuk mengawasi transisi yang independen dan demokratis, mereka akan menggunakan konferensi sebagai kesempatan untuk mencari cara mempertahankan kekuasaan," kata Liasmine.  

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA