Rabu 26 Jun 2019 03:07 WIB

Houthi Larang Pengiriman Makanan untuk Rakyat Yaman

Houthi memblokir pengiriman makanan untuk 100 ribu keluarga di Yaman.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
[ilustrasi] Milis Houthi di Sana'a, Yaman.
Foto: EPA/Yahya Arhab
[ilustrasi] Milis Houthi di Sana'a, Yaman.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Juru Bicara Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan, milisi Houthi di Yaman melarang pengiriman bantuan makanan, Selasa (25/6) waktu setempat. Milisi Houthi yang didukung Iran memblokir pengiriman makanan untuk sekitar 100 ribu keluarga yang dilanda perang sehingga mendorong rakyatnya di ambang kelaparan.

Pejabat yang meminta anonim tersebut mengatakan, bantuan diblokir usai WFP menangguhkan sebagian bantuan pekan lalu di Sanaa, sebab menuduh para Houthi menjarah. Dilansir Al Arabiya, Houthi pun merespons pernyataan WFP melalui pernyataan media. Houthi menuduh WFP mengirim makanan busuk.

Baca Juga

Pejabat WFP itu mengatakan, bahwa Houthi memerintahkan lebih dari 8.000 ton tepung yang dikirim WFP untuk keluar dari pelabuhan Laut Merah Hodeidah karena mengklaim terkontaminasi serangga mati.

Namun, pemeriksaan selanjutnya pada kargo telah merapat di dekat wilayah Oman. Pemeriksaan tersebut menujukkan bahwa bantuan berupa makanan itu bersih.

Arab Saudi dan sekutunya telah lama campur tangan di Yaman pada 2015 dalam mendukung pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi setelah Houthi merebut banyak negara, termasuk ibu kota. Pasukan yang didukung koalisi telah merebut kembali sebagian besar wilayah selatan, namun Sanaa dan sebagian besar dataran tinggi yang padat penduduk, tetap di tangan para militan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sejak Maret 2015, konflik Yaman telah menewaskan puluhan ribu orang. Pertempuran itu dinilai PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Dengan rincian 3,3 juta orang terlantar dan 24,1 juta orang atau lebih dari dua pertiga populasi negara membutuhkan bantuan.

"Terlalu banyak orang Yaman menderita begitu lama selama konflik yang sedang berlangsung ini. Kami akan terus mencari kerja sama dari otoritas yang berbasis di Sanaa dan kami tetap optimis bahwa jalan ke depan dapat ditemukan," kata WFP.

"Kami siap untuk segera melanjutkan distribusi makanan setelah kami mencapai kesepakatan tentang latihan identifikasi penerima manfaat independen dan peluncuran sistem pendaftaran biometrik," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement