Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

20 Tahun Australia Bergantung Penuh Pada Energi Terbarukan

Kamis 21 Sep 2017 16:59 WIB

Rep: Stephen Smiley dan Caroline Winter/ Red:

abc news

abc news

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Analisis Professor Andrew Blakers dari Australia National University (ANU) menyebutkan Australia memiliki kapasitas untuk menyimpan energi terbarukan hingga 1.000 kali lebih banyak daripada yang diperkirakan.

Prof. Blakers yang merupakan ahli teknik telah melakukan studi untuk melihat lokasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) model pumped hydro dan menemukan setidaknya 22 ribu lokasi yang cocok di seluruh Australia. Menurut dia, jika penyimpanan air dibangun di hanya sebagian kecil tempat-tempat tersebut, maka negara ini dapat beralih 100 persen ke energi terbarukan dalam dua dekade.

"Tidak peduli dimana pun berada di Australia, Anda akan menemukan lokasi hidro yang bagus, tidak jauh dari lokasi pembangkit tenaga angin atau tenaga surya Anda," katanya.

"Kita hanya perlu membangun sekitar satu atau dua lusin (PLTA) untuk bisa mendukung jaringan listrik terbarukan 100 persen," jelasnya.

PLTA pumped hydro bekerja dengan memompa air ke atas antara dua waduk yang terhubung saat tenaga berlimpah, kemudian mengirimkan daya ke jaringan saat permintaan tinggi atau saat pembangkit tenaga angin dan surya tidak bekerja.

Peneliti ilmu teknik dari ANU Matthew Stocks menjelaskan fasilitas pompa air biasanya dapat memberikan daya maksimum selama lima jam hingga sehari penuh.

Daya listrik bisa dengan cepat dikirim ke jaringan bila diperlukan.

"Bisa berjalan dari nol hingga kekuatan penuh dalam waktu sekitar satu menit," jelas Dr Stocks.

Pumped hydro explained in an Energy Australia graphic.
Cara kerja PLTA.

Supplied: EnergyAustralia

Teknologi di balik PLTA model ini bukanlah hal baru. Suatu fasilitas seperti ini dibuka pada tahun 1970an di Pembangkit Listrik Tumut 3 di Talbingo, New South Wales.

PLTA pumped hydro juga tersebar luas di Eropa, terutama di bagian alpine Italia, Jerman dan Prancis, dan di negara-negara Skandinavia seperti Norwegia. Model ini juga banyak digunakan di Jepang dan Amerika Serikat.

Prof. Blakers menjelaskan seiring investasi pada sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya yang meningkat di Australia, maka kebutuhan akan penyimpanan pumped hydro akan meningkat. "Kita memiliki sedikit tenaga surya dan tenaga angin dalam sistem saat ini sehingga kita tidak memerlukan penyimpanan," katanya.

"Mungkin sekarang Australia Selatan, dengan harga tenaga angin dan surya 50 persen, baru sampai pada tahap membutuhkan interkoneksi yang kuat atau pumped hydro atau keduanya," jelas Prof. Blakers.

"Namun negara bagian lainnya akan mengejar dan berada di tingkat 50 persen pada awal tahun 2020-an saya kira. Jadi mereka juga perlu mulai merencanakan (PLTA) pumped hydro sekarang," tambahnya.

Bisa teraliri listrik seluruhnya dalam dua dekade

Untuk laporan tersebut, Prof. Blakers, Dr Stocks dan rekan mereka secara teliti mencari puluhan ribu tempat di seluruh Australia. Mereka menemukan lokasi terpadat untuk penyimpanan pumped hydro berada di New South Wales yang mereka memperkirakan berpotensi membangun penyimpanan berkapasitas 29.000 gigawatt di 8.600 lokasi.

Di Victoria mereka memperkirakan ada 4.400 lokasi yang berpotensi cocok dan mampu menampung kapasitas 11.000 gigawatt, sementara Tasmania secara teoritis dapat mendukung 2.050 lokasi dengan penyimpanan berkapasitas 6.000 gigawatt.

"The Great Dividing Range merupakan lokasi terbaik," jelas Prof. Blakers.

"Mulai dari Queensland Utara sampai ke dekat Melbourne ada ribuan lokasi," katanya.

Dia menanambahkan, jika PLTA pumped hydro dibangun di beberapa lokasi yang tersebar di seluruh Australia maka kebutuhan listrik negara ini dapat mengandalkan hanya pada energi terbarukan.

"Pumped hydro, interkoneksi DC bertegangan tinggi antara negara bagian, solar photovoltaics, angin, baterai dan manajemen permintaan bisa memenuhi semuanya," katanya.

"Bukan hanya keseluruhan kebutuhan listrik, tapi keseluruhan kebutuhan energi - untuk transportasi darat, untuk penghangat dan pendinginan, dan kita bisa mengurangi emisi gas rumah kaca Australia sebesar 75 persen," jelas Prof. Blakers.

"Saya kira hal ini akan terjadi dalam 15 atau 20 tahun ke depan," tambahnya.

Ekspansi besar

Karya peneliti ANU ini didanai oleh hibah sebesar $ 500.000 yang disiapkan Badan Energi Terbarukan Australia (ARENA) dari Pemerintah Federal.

ARENA sendiri sudah mendanai studi kelayakan ke penyimpanan pumped hydro di Tasmania, serta di Upper Spencer Gulf di Australia Selatan dan Kidston di Queensland utara.

CEO ARENA Ivor Frischknecht menjelaskan meski penelitian tambahan sekarang diperlukan ke dalam 22.000 lokasi yang diidentifikasi penelitian ini, namun pesannya jelas: Australia dapat memiliki energi terbarukan 100 persen.

"Tidak ada keraguan bahwa investasi pembangkit tenaga angin dan surya akan terus berlanjut," katanya.

"Tantangannya adalah memastikan bahwa kita mendaptkan sistem andal yang juga terjangkau. Dari situlah penelitian ini masuk," ujarnya.

"Penelitian ini menunjukkan akan relatif terjangkau untuk menjalankan keseluruhan sistem pada tenaga angin, surya dan pumped hydro," kata Frischknecht.

Dalam pernyataan kepada Program AM dari ABC, Menteri Lingkungan dan Energi Josh Frydenberg menyambut baik temuan penelitian tersebut.

Dia mengatakan Pemerintah telah memberikan "ekspansi besar" pada skema Snowy Hydro dan mengutip studi kelayakan yang sedang berlangsung di Tasmania, Australia Selatan dan Queensland.

Menteri Frydenberg juga mengindikasikan bahwa Pemerintah sedang mengerjakan "pendanaan prioritas baru untuk penyimpanan berskala besar dan proyek kapasitas fleksibel lainnya termasuk (PLTA) pumped hydro".

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News di sini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA