Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Sejarah Peradaban Islam di Damaskus, Suriah

Selasa 26 Feb 2019 17:05 WIB

Red: Hasanul Rizqa

dokumen yang dikirim dari Masjid Ummayah di Damaskus,

dokumen yang dikirim dari Masjid Ummayah di Damaskus,

Foto: Republika/Arif Supriono
Damaskus di Suriah menjadi salah satu tempat puncak kejayaan Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sejarah peradaban Islam, Damaskus menjadi pusat pemerintahan pertama di luar Jazirah Arabia. Pendiri Dinasti Umayyah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, memindahkan ibu kota dari Madinah ke Damaskus pada 661. Kira-kira, 26 tahun sebelumnya, Damaskus sudah berada di tangan Islam, yakni era Khalifah Umar bin Khaththab.

Baca Juga

Sebagai kelanjutan dari masa khulafaur rasyidin, Dinasti Umayyah menjadikan Damaskus sebagai tonggak peradaban umat Islam. Pada 707, di kota tersebut berdiri rumah sakit sekaligus pusat studi kedokteran pertama. Hal itu atas dukungan Khalifah Walid bin Abdul Malik.

Menurut sejarawan Thomas Goldstein, ada 30 rumah sakit di Damaskus sampai abad ke-13. Sebelumnya, perpustakaan publik pertama juga berdiri di Damaskus pada 704. Inisiatornya adalah Khalifah Khalid bin Yazid, yang tidak lain cucu pendiri Dinasti Umayyah.

Di perpustakaan inilah mula-mula pusat kegiatan intelektual berlangsung. Di antaranya ada aktivitas filologi kesusastraan Arab serta kajian-kajian ilmu hadiyts, fiqih, kalam, dan sejarah.

Masa keemasan meliputi Damaskus begitu Sultan Nuruddin berkuasa pada 1154. Pada eranya, banyak masjid, madrasah, dan pusat kesehatan publik dibangun untuk menunjukkan pencapaian peradaban Islam.

Demikian pula dengan peningkatan kekuatan militer negara. Adapun aktivitas intelektual di Damaskus pada zaman itu berkembang pesat, antara lain, lantaran kontribusi dari dua suku, yakni Bani Asakir dan Bani Qudama.

Sultan Nuruddin mendirikan pusat studi hadits pertama, Dar al-Hadits di Damaskus. Madrasah yang khusus bagi mazhab Maliki, al-Shalahiyyah, juga dibina. Begitu pula dengan madrasah al-‘Adiliyyah pada 1171, yang kini menjadi Arab Academy.

 

Kotanya Ibnu Taimiyah

Salah satu pemikir yang unggul di Damaskus dalam masa keemasan Islam adalah Ibnu Taimiyah (1263-1328). Orang tuanya membawanya hijrah dari Harran ke Damaskus pada 1269. Sebab, kota kelahirannya itu terdampak serbuan tentara Mongol. Kala itu, Ibnu Taimiyah masih berusia tujuh tahun.

Di Damaskus, ayahnya ditunjuk menjadi kepala madrasah Sukkariyyah. Dia sempat mengajar di madrasah yang sama, utamanya dalam bidang ilmu hadits. Di Masjid Umayyah, Ibnu Taimiyah juga mengajar di zawiyah.

Hubungannya dengan rezim penguasa dalam masa itu kerap bermasalah. Bahkan, ia pernah berstatus tahanan politik. Alhasil, ulama besar ini merasakan dinginnya penjara beberapa kali. Di dalam bui, dia tetap melanjutkan menulis karya-karyanya.

Selain Ibnu Taimiyah, ada pula Ibnu al-Syatir (wafat 1375), seorang Muslim astronom sekaligus pakar matematika. Pria kelahiran Damaskus ini pada setahun lamanya belajar di al-Iskandariah, Mesir. Karyanya yang paling dikenang adalah Zij al-Jadid, Taliq al-Arsad, dan Nihayat al-Sul.

Ibnu al-Syatir juga meletakkan dasar-dasar teori peredaran planet-planet serta merancang pelbagai instrumen untuk mendukung kajian astronomi secara presisi. Pada 1337, dia menciptakan dua alat pengukur jarak benda-benda langit (astrolabe).

Tahun 1371, Ibnu al-Syatir membuat jam matahari raksasa untuk Masjid Damaskus. Sebagai astronom, rumus-rumusnya mendahului para astronom Eropa abad pencerahan, misalnya Copernicus yang menggegerkan Gereja dengan teori matahari-sentris.

Bahkan, beberapa riwayat menyebut, perhitungan Copernicus sama persis dengan al-Syatir. Apalagi, al-Syatir merupakan pengoreksi teori astronomi Yunani Kuno, Ptolemy, yang banyak dipakai Gereja untuk dalih “bumi sebagai pusat semesta.”

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA