Senin 08 Apr 2019 16:20 WIB

Proposal Kesepakatan Brexit Masih Jadi Perdebatan di Inggris

Mantan menlu Inggris menolak usulan bea cukai dengan Uni Eropa untuk Brexit.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini
Bendera Uni Eropa dan bendera Inggris yang ditinggalkan demonstran pro-Brexit di Parliament Square di London, 29 Maret 2019.
Foto: AP Photo/Matt Dunham
Bendera Uni Eropa dan bendera Inggris yang ditinggalkan demonstran pro-Brexit di Parliament Square di London, 29 Maret 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Mantan menteri luar negeri Inggris Boris Johnson mengatakan Britania harus menolak usulan mempermanenkan bea cukai dengan Uni Eropa. Sebelumnya ada spekulasi pemerintah Inggris akan mempermanenkan bea cukai dengan Uni Eropa demi mengamankan dukungan dari oposisi.

Di surat kabar Daily Telegraph, Senin (8/4), Johnson mengatakan sistem bea cukai yang diajukan pemimpin oposisi ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn akan 'memperbudak' Inggris. Perdana Menteri Inggris Theresa May tengah melakukan pembicaraan dengan Corbyn.

Baca Juga

"Kami harus tidak setuju untuk menjadi anggota Uni Eropa yang tidak ikut pemungutan suara, di bawah proposal menyerah Jeremy Corbyn, hal itu tidak boleh terjadi, tidak akan dan tidak akan pernah terjadi," cuit Johnson di media sosial Twitter.

May sedang mempersiapkan pembicaraan lebih lanjut dengan Corbyn. Dalam upayanya untuk berkompromi dengan oposisi agar Inggris dapat keluar dari Uni Eropa dengan kesepakatan.

Keputusan May berkompromi dengan oposisi membuat sebagian anggota Partai Konservatif yang mengusungnya marah. Dilansir di CNN Internasional, anggota Parlemen dari Partai Konservatif Jacob Rees-Moog meminta May untuk mengundurkan diri. Rees-Moog seorang pendukung Brexit garis keras itu mendukung Johnson untuk menjadi pemimpin partai.

Rees-Moog juga ketua European Research Group, faksi Partai Konservatif yang dengan gigih menentang kesepakatan Brexit Perdana Menteri May. Di acara stasiun televisi Sky New Sophy Ridge on Sunday, Rees-Moog memuji Johnson sebagai calon potensional ketua Partai Konservatif.

"Saya memikirkan Boris Johnson sangat tinggi," kata Rees-Moog.

Rees-Moog mengatakan selain karena alasan Brexit, menurutnya Johnson juga sosok moderat. Ia dapat menyatukan partai dan mampu memenangkan pemilihan umum.

Johnson yang juga mantan wali kota London tersebut berulang kali menjadi duri dalam daging bagi May. Ia sering menentang kesepakatan Brexit yang diajukan perdana menteri. Pada tahun lalu Johnson pun mengundurkan diri sebagai menteri luar negeri karena tidak sepakat dengan proposal yang diajukan May.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement