Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Perang Gaza-Israel Jilid Empat

Selasa 07 May 2019 06:03 WIB

Red: Elba Damhuri

Asap tebal terlihat di Gaza, Palestina, Ahad (5/5), setelah dihantan roket Israel.

Asap tebal terlihat di Gaza, Palestina, Ahad (5/5), setelah dihantan roket Israel.

Foto: AP Photo/Khalil Hamra
Perang Gaza-Israel beberapa hari ini telah menimbulkan keprihatinan mendalam.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Smith Alhadar, Penasihat pada Indonesian Society for middle East Studies (ISMES)

Perang Gaza-Israel beberapa hari ini telah menimbulkan keprihatinan mendalam komunitas internasional. Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta pihak bertikai menahan diri. Turki meminta Israel menghentikan penggunaan kekerasan yang tidak proporsional.

Hingga hari ketiga, 5 Mei, tak kurang dari 24 warga Palestina terbunuh dan 70 orang lainnya cedera setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan besar-besaran dari darat, laut, dan udara terhadap Jalur Gaza.

Empat warga Israel pun tewas oleh serangan roket Hamas dan Jihad Islami dari Gaza. Bisa jadi perang akan terus bereskalasi hingga mencapai level perang 2014 di mana lebih dari 2.000 warga Palestina terbunuh dan infrastruktur vital Gaza rusak berat.
Israel sendiri menderita kematian 66 tentara yang melakukan penetrasi jauh ke dalam wilayah Gaza. Perang saat ini merupakan kelanjutan konflik bersenjata Israel-Palestina pada akhir Maret.

Hamas dan Jihad Islami berhenti meluncurkan roket setelah Israel menyetujui melonggarkan blokade total atas Gaza sejak 2007, meluaskan zona pencarian ikan bagi nelayan Gaza, meningkatkan impor ke Gaza, dan mengizinkan Qatar menyalurkan dana ke Gaza.

Namun, Israel tidak menepati janjinya. Malah mempersempit zona pencarian ikan pada akhir April. Sementara itu, sudah lebih dari 200 warga Gaza ditembak mati Israel ketika melakukan unjuk rasa ‘Mars Pulang Akbar’ di sepanjang pagar perbatasan Gaza-Israel.

Demonstrasi ini dilakukan rutin setiap Jumat sejak 30 Maret 2018. Yang berdemonstrasi adalah pengungsi Palestina yang meninggalkan kampung halaman mereka di Israel setelah kelompok-kelompok teroris Yahudi, seperti Hagana dan Irgun, membumihanguskan desa-desa Palestina pada 1948. Hak pulang mereka sejalan dengan resolusi-resolusi DK PBB.

Perang saat ini dimulai pada 3 Mei saat dua tentara Israel ditembak faksi bersenjata Palestina di Gaza. Israel pun membalas dengan melancarkan serangan udara dan artileri ke ratusan target di Gaza. Hamas dan Jihad Islami membalas dengan melancarkan lebih dari 400 serangan roket ke kota-kota Israel di selatan.

Israel mengklaim lebih dari 250 roket ditangkis oleh sistem antirudal Iron Dome. Serangan Hamas dan Jihad Islami terjadi menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Israel 15 Mei dan acara final kontes menyanyi Eurovision 2019.

Israel tentu berharap perang berhenti sebelum tanggal dua acara itu. Namun, tindakan bumi hangus serangan Israel terhadap jalur sempit itu bukanlah kebijakan yang benar untuk menghentikan perlawanan.

Jalan yang tepat menenangkan dua juta warga Gaza yang dikerangkeng selama 12 tahun terakhir adalah memberikan harapan hidup pada masa depan, menegakkan keadilan, dan memulihkan harga diri mereka dengan mencabut blokade atas Gaza.

Selain itu, melonggarkan batasan-batasan ekonomi, memfasilitasi pemerintahan Gaza untuk menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengalirkan listrik ke Gaza. Ekonomi Gaza telah lumpuh sejak blokade diberlakukan dan dihentikannya bantuan asing ke Gaza.

Menurut Bank Dunia, pengangguran di Gaza mencapai 52 persen dan kemiskinan merajalela. Di tengah situasi yang sangat sulit ini, militer Israel yang jauh lebih superior melancarkan tiga serangan ke Gaza sejak 2008, menyusul kemenangan Hamas di pemilu tahun 2006 yang demokratis.

Perang terakhir pada 2014 lebih jauh menghancurkan infrastruktur Gaza yang rapuh, mendorong PBB memperingatkan bahwa Gaza tak dapat dihuni lagi pada 2020.
Hamas dan Jihad Islami yang mendominasi Jalur Gaza memang tidak mau tunduk dan bergabung dengan Otoritas Palestina di bawah Presiden Mahmoud Abbas dari Fatah yang memerintah Tepi Barat walaupun berbagai negara Arab, terutama Mesir dan Arab Saudi, telah berulang kali mengusahakan rekonsiliasi di antara mereka.

Hamas dan Jihad Islami bahkan tetap mempersenjatai diri. Tetapi sikap kedua faksi bisa dimaklumi mengingat tidak ada tanda-tanda Israel mau berdamai dengan Palestina berdasarkan Resolusi DK PBB 242 dan 338 serta Kesepakatan Oslo 1993.

Sejak April 2014, proses perdamaian Israel Palestina macet total. Israel memang tidak ingin memerdekakan Palestina dengan wilayah Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina merdeka. Dan posisi Israel didukung oleh AS.

Sementara Otoritas Palestina kini mandul. Abbas menolak pengakuan Washington atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, tetapi tak dapat berbuat apa-apa untuk keluar dari tekanan.
Bahkan, Otoritas Palestina kian lemah setelah AS menutup kantor Organisasi Pembebasan Palestina di Washington, menghentikan bantuan kepada jutaan pengungsi Palestina, dan menghentikan bantuan sosial bagi Palestina.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA