Selasa 30 Apr 2019 09:20 WIB

Dua Keluarga Korban Ethiopian Airlines Tuntut Boeing

Salah satu kerabat korab Ethiopian Airlines kehilangan tiga generasi keluarganya.

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah
Kerabat korban jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines Boeing 737 MAX 8 berduka di lokasi jatuhnya pesawat di Bishoftu, Addis Ababa, Etiopia, Rabu (13/3).
Foto: AP Photo/Mulugeta Ayene
Kerabat korban jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines Boeing 737 MAX 8 berduka di lokasi jatuhnya pesawat di Bishoftu, Addis Ababa, Etiopia, Rabu (13/3).

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO -- Perusahaan produsen pesawat Boeing.co kembali mendapat tuntutan hukum dari dua keluarga korban kecelakaan Ethiopian Airlines, Senin (29/4). Tuntutan diajukan melalui pengadilan federal di Chicago, Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, gugatan juga telah dilayangkan kepada Boeing yang dianggap bersalah atas kecelakaan yang terjadi pada 10 Maret lalu dan menewaskan 346 orang. Ethiopian Airlines menggunakan pesawat Boeing jenis 737 MAX yang diduga memiliki kesalahan sistem sehingga menyebabkan insiden itu.

Baca Juga

Salah satu penggugat adalah Manant Vaidya. Dalam kecelakaan itu, orang tuanya, Pannagesh Bhaskar Vaidya, Hansini Pannagesh Vaidya, saudara perempuan, saudara ipar, dan dua keponakannya tewas.

“Saya kehilangan tiga generasi keluarga saya. Jika seorang kehilangan satu nyawa saja sudah merasa sangat hancur, saya lebih dari demikian,” ujar Vaidya dilansir China.org, Senin (29/4).

Selain Vadya, ada Paul Njoroge yang juga mengajukan gugatan terhadap Boeing. Dalam kecalakaan Ethiopian Airlines, ia kehilangan sang istri Carolyne Nduta Karanja, serta ibu mertua bernama Ann Karanja. Tak hanya itu, ketiga anaknya, yaitu Ryan Njoroge Njugun, Kellie W. Pauls, dan Rubi W Pauls juga kehilangan nyawa mereka dalam insiden itu.

“Saya terbangun sepanjang malam menangis memikirkan peristiwa mengerikan yang harus dialami oleh keluarga saya saat pilot berusaha membuat pesawat tetap terbang selama enam menit dan saya tak ada di sana untuk membantu dan tak bisa menyelamatkan mereka,” ujar Njoroge.

Boeing diyakini telah merancang pesawat jenis 737 MAX dengan sistem penerbangan otomatis yang cacat atau gagal, yaitu Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS). Selain itu, Boeing dinilai gagal memberi peringatan terhadap banyak pihak, termasuk maskapai penerbangan dan pilot-pilot yang mengemudikan pesawat jenis itu.

Sebelumnya, kecelakaan yang melibatkan Boeing 737 MAX terjadi pada Lion Air JT 610 di Indonesia Oktober 2018. Dalam sebuah penyelidikan, otoritas Etiopia mengatakan terdapat kesamaaan dalam dua isniden ini beradasarkan hasil analisis awal kotak hitam yang ditemukan di Ethiopian Airlines.

Presiden dan CEO Boeing Dennis Muilenburg sebelumnya mengatakan Boeing berduka dengan kecelakaan yang melibatkan pesawat jenis 737 MAX. Ia menekankan bahwa perusahaan memiliki tim insinyur dan pakar teknis terbaik yang bekerja untuk menyelesaikan masalah perangkat lunak dalam pesawat tersebut.

“Kami akan memastikan kecelakaan seperti yang melibatkan Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines 302 tak terjadi lagi,” ujar Muilenburg.

Boeing mengatakan menjanjikan perubahan perangkat lunak pada fungsi MCAS. Dalam sebuah pernyataan lebih lanjut, Muilenburg mengatakan bahwa pesawat 737 MAX akan menjadi yang teraman bagi semua orang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement