Selasa 14 May 2019 12:37 WIB

Serangan Kapal Tanker Ancam Pasokan Minyak Global

Serangan kapal tanker terjadi di Selat Hormuz, jalur penting perdanganan minyak.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Selat Hormuz
Selat Hormuz

REPUBLIKA.CO.ID, FUJAIRAH -- Serangan sabotase yang terjadi di Teluk Persia atau tepatnya di Selat Hormuz dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan minyak global. Sebab, Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan ekspor minyak mentah global terutama bagi produsen utama yakni Kuwait dan Arab Saudi. 

Sekitar 40 persen minyak mentah dunia diangkut melalui Selat Hormuz. Selain itu, Pelabuhan Fujairah juga memegang peranan penting dan sangat signifikan dalam perdagangan minyak global. Fujairah berjarak sekitar 140 kilometer sebelah selatan dari Selat Hormuz. 

Baca Juga

Ancaman dan gangguan yang terjadi di Selat Hormuz telah membuat kegelisahan di pasar minyak global, karena harga patokan minyak mentah Brent naik menjadi lebih dari 71,50 dolar AS per barel pada Senin lalu dengan perubahan 1,3 persen. Menteri Energi Arab Saudi, Khalid Al-Falih mengatakan, dua kapal tanker milik Saudi menjadi korban serangan sabotase pada Ahad lalu sekitar pukul 6.00 waktu setempat.

Falih mengatakan, serangan tersebut tidak menimbulkan korban dan tumpahan minyak. Namun, dia mengakui bahwa serangan sabotase itu dapat mempengaruhi keamanan pasokan minyak dunia. 

"Ini adalah tanggung jawab bersama masyarakat internasional untuk melindungi keselamatan navigasi maritim dan keamanan kapal tanker minyak, untuk mengurangi dampak buruk dari insiden seperti itu di pasar energi, dan bahaya yang ditimbulkannya terhadap ekonomi global," ujar Falih dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Saudi Press Agency, Selasa (14/5).

Departemen Energi Amerika Serikat (AS) langsung memantau pasar minyak dan optimistis mereka tetap mendapatkan pasokan yang baik. Dilaporkan New York Times, penurunan pengiriman minyak dan kenaikan harga mungkin akan memukul importir Asia seperti Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan. 

Sementara, Iran, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirate Arab sebagai produsen utama sangat bergantung pada situasi Selat Hormuz untuk mengekspor minyak dan gas alam. Bahkan, stabilitas politik mereka sangat bergantung pada perdagangan yang melalui jalur tersebut. 

Dalam hal ekonomi, AS akan menjadi salah satu negara yang paling sedikit terpengaruh oleh gangguan minyak. Sebab, produksi domestik AS meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu dapat memotong impor dari Timur Tengah dengan sangat tajam. 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement