Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Ilmuwan Sebut Gas Panas di Galaksi Mirip Susu

Senin 08 Jul 2019 12:00 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Galaksi bima sakti (ilustrasi)

Galaksi bima sakti (ilustrasi)

Foto: wikipedia
Ilmuwan mempelajari klister galaksi Coma.

REPUBLIKA.CO.ID, Sekelompok ilmuwan melakukan penelitian untuk mengetahui tentang gas panas yang ada di gugus galaksi alam semesta. Mereka ingin mempelajari lebih dalam mengenai gas tersebut, seperti apakah memiliki ketebalan bagaikan madu yang dituangkan dari sendok, atau justru sehalus susu yang diaduk dalam secangkir kopi. 

Penelitian terbaru untuk mengamati gas panas yang ditemukan di kluster galaksi Coma tersebut menggunakan Chandra X-ray Observatory milik NASA sebagai media pengamatan. Para peneliti mengamati bahwa meski berlimpah di gugus galaksi, tetapi gas panas ini memiliki viskositas rendah yang dinilai cenderung seperti susu. 

“Temuan kami menunjukkan bahwa viskositas gas dalam Coma jauh lebih rendah dari yang diharapkan,” ujar Irina Zhuravleva, seorang peneliti di Universitas Chicago yang sekaligus menjadi penulis utama studi tersebut, dilansir Space, Senin (8/7). 

Para ilmuwan menduga alasan mengapa viskositas rendah dari gas panas tersebut bisa menjadi penyimpangan skala kecil di medan magnet cluster. Ketidakteraturan itu mengurangi jarak yang dapat dilalui partikel gas secara beda dan karenanya memiliki efek pada viskositas gas. 

Galaksi kluster memiliki tiga komponen utama, yaitu galaksi individu, materi gelap, dan gas yang berukuran jutaan derajat fahrenheit atau celcius. Ketiga komponen itulah yang menjadi fokus para ilmuwan dalam penelitian terbaru ini. 

Gas yang ditemukan di Coma tidak dapat ditiru dalam pengaturan laboratorium karena memiliki kepadatan yang sangat rendah. Hal itulah yang membuat pengamatan dengan menggunakan sinar-X sangatlah penting. 

Para peneliti juga mengamati  area di mana kepadatan gas bahkan lebih rendah, jauh dari pusat galaksi kluster. Di sana, partikel-partikel gas panas harus melakukan perjalanan lebih jauh, sekitar 100.000 tahun cahaya, untuk berinteraksi satu sama lain. 

Perjalanan panjang itu memungkinkan bagi Chandra X-ray Observatory untuk menyelidiki partikel-partikel gas panas. Para ilmuwan mengatakan itu menjadi salah satu aspek paling mengejutkan bagi mereka untuk dapat mempelajari fisika dalam skala yang relevan. 

"Mungkin salah satu aspek yang paling mengejutkan adalah bahwa kami dapat mempelajari fisika pada skala yang relevan dengan interaksi antara partikel atom dalam suatu objek yang berjarak 320 juta tahun cahaya," ujar Alexander Schekochihin, seorang ahli fisika teoretis di Universitas Oxford dalam sebuah pernyataan.

Schekochihin juga mengatakan bahwa pengamatan itu membuka peluang besar untuk menggunakan kluster galaksi sebagai laboratorium untuk mempelajari sifat dasar gas panas. Mengamati viskositas gas panas juga memungkinkan para ilmuwan mempelajari lebih banyak  tentang dinamika antar kluster galaksi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA