Senin 29 Jul 2019 08:20 WIB

Iran Pun akan Memulai Aktivitas Reaktor Nuklir di Arak

Iran berhenti mematuhi beberapa ketetapan kesepakatan nuklir 2015

Rep: LINTAR SATRIA, ROSSI HANDAYANI/ Red: Elba Damhuri
Foto menunjukkan bagian atas dari fasilitas nuklir reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya ibu kota Teheran, Iran.
Foto: Mehdi Marizad/Fars News Agency via AP
Foto menunjukkan bagian atas dari fasilitas nuklir reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya ibu kota Teheran, Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Ali Akbar Salehi, mengatakan kepada anggota parlemen pada Ahad (28/7), Iran akan memulai kembali kegiatan reaktor nuklir air berat di Arak. Pernyataan tersebut dilaporkan oleh kantor berita Iran, ISNA.

Laporan ini dibuat berdasarkan kutipan salah seorang anggota perlemen yang mengikuti pertemuan tersebut. Air berat, yakni air yang memiliki isotop H-2 (deuterium) dapat digunakan di reaktor nuklir untuk memproduksi uranium, bahan baku senjata nuklir.

Iran berhenti mematuhi beberapa ketetapan kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Sebuah perjanjian yang Iran tanda tangani dengan beberapa kekuatan dunia.

Langkah ini Iran lakukan setelah Amerika Serikat (AS) menarik diri dari perjanjian tersebut dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi kepada mereka. Negara-negara yang masih berkomitmen pada JCPOA pun berupaya agar kesepakatan tersebut tetap bertahan.

Upaya tersebut semakin sulit dilakukan karena ketegangan antara AS dan Iran semakin memanas dalam beberapa pekan terakhir. Selain AS, Prancis, dan Jerman, negara lain yang ikut serta dalam perjanjian ini adalah Cina, Rusia, Inggris, dan Uni Eropa (UE).

Pada Ahad ini pula, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina bertemu Iran di Vienna. Negara-negara ini, membahas bagaimana caranya untuk menyelamatkan JCPOA.

Pada 3 Juli lalu Presiden Iran Hassan Rouhani sudah mengancam. Jika negara-negara anggota JCPOA tidak melindungi perdagangan Iran seperti yang dijanjikan di JCPOA, Teheran akan meningkatkan level uranium yang dikayakan dan membangkitkan kembali reaktor air berat Arak setelah 7 Juli.

Iran juga sempat menuduh pemerintah Presiden AS, Donald Trump sengaja mengobarkan perang ekonomi terhadapnya, dengan berkampanye untuk mengurangi ekspor minyak Iran menjadi nol.

Sebelumnya, AS telah membatalkan serangan udara terhadap Iran pada menit terakhir, setelah Teheran menembak jatuh pesawat tak berawak AS. Washington kemudian juga menyalahkan Iran karena serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Teluk.

Perekonomian Iran hancur karena sanksi AS mengincar sektor perminyakan yang sangat vital bagi Negeri Seribu Mullah. Pejabat pemerintah Iran mengatakan, Teheran bisa kembali mematuhi ketetapan JCPOA lagi, jika negara-negara anggota kesepakatan nuklir itu memenuhi janji mereka.

Kekuatan-kekuatan Barat sepakat ambisi nuklir Iran harus diatasi karena mereka khawatir Teheran berniat untuk membangun senjata nuklir. Teheran dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Pertemuan Komisi Gabungan JCPOA akan diketuai oleh sekretaris jenderal badan kebijakan luar negeri Uni Eropa Helga Schmid.

Di luar Arak, ada tiga fasilitas nuklir lain yang telah dikembangkan oleh Iran, yakni Bushehr, Darkhovin, dan Fordow. Posisi Iran di Timur Tengah kini makin menjadi perhatian setelah terjadi beberapa insiden penahanan dan penyitaan kapal tanker minyak di Selat Hormuz. (reuters/ed: setyanavidita livikacansera)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement