Kamis 22 Aug 2019 13:40 WIB

Pemerintahan Presiden Brasil Dinilai Hancurkan Hutan Amazon

Presiden Bolsonaro menyebut LSM sengaja membakar hutan Amazon.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Petugas patroli dengan latar kobaran api yang membakar truk pengangkut kayu milik pelaku ilegal logging di Hutan Amazon Brazil
Foto: Ueslei Marcelino/Reuters
Petugas patroli dengan latar kobaran api yang membakar truk pengangkut kayu milik pelaku ilegal logging di Hutan Amazon Brazil

REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA -- Aktivis lingkungan menilai tudingan Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang menyebut kelompok-kelompok lingkungan telah membakar hutan Amazon, tidak masuk akal. Pemerintah Bolsonaro dinilai telah menghancurkan hutan Amazon.

Sebelumnya, Bolsonaro menuduh organisasi non pemerintah (LSM) lingkungan sengaja membakar hutan Amazon untuk mempermalukan pemerintahannya.

Baca Juga

“Mengenai pertanyaan pembakaran di Amazon, menurut saya mungkin diprakarsai oleh LSM karena mereka kehilangan uang, apa tujuannya? Untuk membawa masalah ke Brasil, ” ujar Bolsonaro dilansir Guardian, Kamis (22/8).

Ketika ditanya apakah Bolsonaro memiliki bukti atau menyebutkan LSM yang terlibat, dia mengatakan, tidak memiliki catatan secara tertulis. Pernyataan yang dia lontarkan hanya sebatas dugaan saja. Bolsonaro sebelumnya melayangkan tuduhan serupa, yang menyatakan bahwa kelompok LSM telah pergi ke Amazon dengan membawa kamera dan mulai menyalakan api, serta merekamnya. 

Aktivis lingkungan mengatakan, tudingan Bolsonaro sangat tidak masuk akal. Mereka menilai, pernyataan Bolsonaro merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian dari masalah pengawasan pemerintah yang buruk dan dorongan pembukaan hutan ilegal.

“Mereka yang menghancurkan Amazon dan membiarkan deforestasi terus berlanjut, didorong oleh tindakan dan kebijakan pemerintah Bolsonaro. Sejak menjabat, pemerintah saat ini secara sistematis membongkar kebijakan lingkungan Brasil," kata Danicley Aguiar, dari Greenpeace Brazil.

Kebakaran hutan Amazon di Brasil telah mencetak rekor. The National Institute for Space Research (Inpe) menyebut, kebakaran hutan di sana telah meningkat 84 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018. 

Copernicus Atmosphere Monitoring Service mencatat, panas dari kebakaran hutan Amazon telah berada di atas rata-rata bulan ini. Pada 15 Agustus, energi panas yang dilepaskan ke atmosfer sekitar 700 persen lebih tinggi dari 15 tahun sebelumnya.

Gelombang kebakaran di beberapa negara bagian Amazon bulan ini terkait laporan bahwa para petani  sengaja melakukan pembakaran untuk membuka lahan pertanian dan peternakan. Karena pemerintah Brasil yang baru ingin membuka wilayah itu untuk kegiatan ekonomi. Ada lonjakan tajam dalam deforestasi selama Juli, yang diikuti oleh pembakaran yang meluas pada  Agustus. Surat kabar lokal mengatakan petani di beberapa daerah menyelenggarakan "hari api" untuk mengambil keuntungan dari penegakan kebijakan yang lemah oleh pihak berwenang.

Sejak Bolsonaro mengambil alih kekuasaan, badan lingkungan menegakkan lebih sedikit hukuman. Para menteri lebih banyak menaruh simpati kepada kelompok penebang pohon daripada kelompok masyarakat adat yang tinggal di hutan. Bulan lalu, kepala badan antariksa Brasil dipecat setelah presiden membantah data deforestasi resmi dari satelit.

Sebuah protes internasional telah mendorong Norwegia dan Jerman menghentikan sumbangan dana bagi Amazon Brasil. Selain itu, ada juga seruan agar Eropa memblokir kesepakatan perdagangan dengan Brasil dan negara-negara Amerika Selatan lainnya.

Kebakaran hutan juga terjadi di Bolivia, yang merupakan negara tetangga Brasil. Kebakaran hutan yang cukup besar di Bolivia telah menghancurkan 5.180 kilometer persegi hutan. Video dari departemen Santa Cruz memperlihatkan kera dan hewan lain berlarian mencari tempat berlindung. Gambar satelit Copernicus menunjukkan, kebakaran di Bolivia menyebabkan langit di Sao Paulo tampak gelap pada siang hari. Padahal Sao Paulo berjarak ribuan mil dari Bolivia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement