Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

AS Incar Perjanjian Dagang Baru Dengan Inggris

Sabtu 07 Sep 2019 14:50 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolanda

Wakil Presiden AS Mike Pence melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Kamis (5/9).

Wakil Presiden AS Mike Pence melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Kamis (5/9).

Foto: Peter Summers/Pool photos via AP
AS ingin membuat perjanjian perdagangan yang baru setelah Brexit digelar.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Inggris memang belum keluar dari Uni Eropa. Tapi Amerika Serikat (AS) sudah bersiap membuat perjanjian perdagangan yang baru paska-Brexit. Dalam kunjungannya ke Inggris pekan ini Wakil Presiden AS Mike Pence membawa pesan Presiden Donald Trump.

AS ingin membuat perjanjian perdagangan yang baru setelah Brexit digelar. Sebuah perjanjian yang tidak bisa dibuat sebelum Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa.

"Pesan kami jelas: saat Inggris keluar, Amerika masuk," kata Pence saat bertemu dengan Perdana Menteri Boris Johnson Jumat (6/9) lalu.

Tapi tentu membangun hubungan AS-Inggris diatas puing-puing Brexit tidak akan berjalan dengan mudah. Pejabat Inggris sudah berjanji menentang perjanjian yang hanya akan memperkuat Amerika.

Ada potensi perselisihan dari urusan ayam yang diklorinasi sampai masakan tradisional Skotlandia, Haggis. Karena itu Johnson tidak buru-buru untuk menjawab permintaan pemerintahan Trump.

"Saya tahu Anda sekalian negosiator yang tangguh, karena itu, kami bekerja sangat keras untuk memastikan perdagangan bebas menguntungkan semua pihak," kata Johnson.

Sebagai anggota Uni Eropa sejauh ini kebijakan perdagangan Inggris diserahkan ke blok itu. Sebelum dapat menempuh jalur independen dan membuat perjanjian perdagangan baru dengan Washington, London harus menyelesaikan proses Brexit.

Menghindari keluarnya Inggris dari blok yang terdiri dari 28 negara anggota itu tanpa kesepakatan. Mengurangi resiko menghancurkan perekonomian mereka sendiri.

"Sampai semua selesai, ini semua hanya spekulasi," kata peneliti senior di George Mason University’s Mercatus Center Christine McDaniel.

Semua persyaratan keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan menyulitkan membuat kesepakatan baru dengan AS. Kesepakatan yang juga harus disetujui Kongres.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA