Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Asap Kebakaran Hutan Pengaruhi Kualitas Udara di 4 Provinsi

Sabtu 14 Sep 2019 18:39 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Nashih Nashrullah

Warga beraktivitas dengan latar belakang aliran Sungai Siak yang diselimuti asap kebakaran lahan gambut di Alun-alun Kabupaten Siak, Riau, Kamis (12/9).

Warga beraktivitas dengan latar belakang aliran Sungai Siak yang diselimuti asap kebakaran lahan gambut di Alun-alun Kabupaten Siak, Riau, Kamis (12/9).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Kebakaran hutan dan lahan berakibat pada tercemarnya udara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mempengaruhi kualitas udara di empat provinsi. Pengaruh asap karhutla di empat  provinsi ini mayoritas berada di atas nilai ambang batas (NAB) 150 mikron.  

Baca Juga

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengatakan nilai NAB tersebut menunjukkan tingkat polutan akibat kabut asap. Angka NAB ini menunjukkan kualitas uadara di daerah setempat. Keempat provinsi tersebut yaitu Kalimantan Tengah, Riau, Sumatra Selatan, dan Jambi. 

"Memang kualitas udara terpengaruh. Ada nilai ambang batas yang terlampaui,” kata Dwikorita di Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (14/9). 

Dia menjelaskan, misalnya di Kalimantan nilai ambang batas 150 Mikron. Ini kelihatan di daerah Sampit (Kalimantan Tengah)  mulai  4 September ini sudah melampaui nilai ambang batas itu. Kemudian sempat naik sampai di atas 300 Mikron pada  6 September.  

Kemudian, kondisinya turun di bawah 150 Mikron. Pada 11 September naik lagi melampaui 150 Mikron. "Sampai kemarin, saya rasa hari ini juga, kemarin sampai diatas 500 Mikron. Itu di Sampit," lanjut Dwikorita. 

Sementara itu, di Pekanbaru (Riau), kata Dwikorita, pengaruh kabut asap menyentuh ambang batas 150 Mikron pada 9 September.  Pada 10 September mencapai lebih dari 150 Mikron-170 Mikron.

"Lalu kondisinya turun pada 11 September, naik lagi 12 September itu mencapai diatas 250 Mikron. Pada 13 September mencapai 300 Mikron," paparnya.  

Dia menyebutkan, untuk Palembang (Sumatra Selatan) kondisinya pengaruh kabut asap pada kualitas udaranya mulai menyentuh ambang batas melampaui 150 mikron. Tetapi sekarang turun, jadi kondisinya membaik untuk Palembang. "Untuk Jambi saat ini ada di ambang batas 150 Mikron, dan kondisinya ini sangat fluktuatif," kata dia.  

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA