Senin 02 Sep 2019 06:20 WIB

Serangan Artileri Tutup Bandara di Tripoli

Laporan-laporan mengenai jumlah korban luka-luka di Bandara Mitiga masih simpang siur

Bandara Mitiga di Tripoli. (ilustrasi)
Foto: EPA/MOHAMED MESSARA
Bandara Mitiga di Tripoli. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI - Satu-satunya bandar udara yang masih berfungsi di Tripoli, Ibu Kota Libya, ditutup pada Ahad (1/9), setelah diserang artileri, Sabtu (31/8) malam. Laporan-laporan mengenai jumlah korban luka-luka di Bandara Mitiga masih simpang siur.

Seorang pejabat yang menangani media dari Pemerintah Persetujuan Nasional (GNA), yang berkedudukan di Tripoli, mengatakan empat orang menderita luka-luka, termasuk tiga jamaah haji.

Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL) mengatakan empat proyektil menghantam bagian-bagian sipil bandara itu termasuk landasan pacu. Serangan mengakibatkan kerusakan pada sebuah pesawat yang membawa puluhan jamaah haji dan mencederai dua anggota awak.

"Serangan-serangan bengis ini dirancang untuk menimbulkan ketakutan, menciptakan kepanikan dan mengganggu operasi di satu-satunya bandara di Ibu Kota Libya,Tripoli," katanya dalam satu pernyataan, dikutip Reuters.

Rumah sakit di dekat Mitiga menerima seorang anak perempuan yang menderita luka-luka, kata seorang dokter di sana. Foto-foto di media sosial menunjukkan kerusakan pada sebuah pesawat penumpang yang dioperasikan Libyan Airlines. Sejumlah mobil yang diparkir di bandara juga rusak, kata seorang saksi mata Reuters.

Sumber dari serangan itu belum segera diketahui jelas. Mitiga, yang terletak di sebelah timur Tripoli, berkali-kali mendapat serangan dalam beberapa bulan belakangan, sehingga memaksa penerbangan-penerbangan dihentikan selama beberapa jam.

Bandara itu menjadi sasaran dalam pertempuran yang melibatkan Tentara Nasional Libya (LNA) yang berkedudukan di bagian timur negara itu dan pasukan yang bersekutu dengan GNA. Pada April LNA melancarkan serangan untuk menguasai ibu kota tersebut.

UNSMIL menyatakan serangan tersebut merupakan insiden ketujuh atas Mitiga sejak akhir Juli. Badan PBB itu mendokumentasikan insiden tersebut untuk diserahkan sebagai temuan kepada Mahkamah Kejahatan Internasonal dan Dewan Keamanan PBB, katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement