Friday, 22 Jumadil Awwal 1441 / 17 January 2020

Friday, 22 Jumadil Awwal 1441 / 17 January 2020

Menteri LHK: Perubahan Iklim Picu La Nina dan El Nino

Rabu 02 Oct 2019 14:18 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Perubahan iklim tak hanya dirasakan di Indonesia, namun fenomena global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI Siti Nurbaya Bakar mengatakan bahwa terjadinya iklim ekstrem merupakan salah satu dampak perubahan iklim. Hal tersebut merupakan hasil kajian para ilmuwan.

"Suhu ekstrem tersebut yaitu kejadian ENSO (El Nino Southern Oscillation) baik berupa La Nina maupun El Nino," kata dia saat membuka kegiatan Festival Iklim di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Rabu.

Perubahan iklim, menurut Siti, dapat meningkatkan frekuensi kejadian La Nina dan El Nino. Belakangan, suhu ekstrem itu muncul setiap tiga hingga lima tahun. Padahal, normalnya La Nina atau El Nino hanya berulang dalam periode lima hingga tujuh tahun.

Baca Juga

Siti menjelaskan bahwa efek iklim ekstrem berupa La Nina dapat menimbulkan dampak banjir karena tingginya intensitas curah hujan. Sementara itu, El Nino memicu kekeringan ekstrem akibat rendahnya curah hujan.

Menurut Siti, bencana iklim ekstrem tersebut tidak hanya terjadi di Tanah Air, namun bersifat global. Khusus di Indonesia, kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi turut mengakibatkan perubahan iklim.

"Kebakaran hutan merupakan salah satu contoh, namun jika dibandingkan dua pekan sebelumnya kondisi itu jauh berkurang," ujar dia.

Secara umum, karhutla yang terjadi di sejumlah daerah menyebabkan kepunahan flora dan fauna di lokasi terjadinya kebakaran. Hal itu otomatis meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK) sehingga menjadi penyebab bumi bertambah panas.

Siti pun mengingatkan, sebagai negara yang tergabung dalam kesepakatan Paris, Indonesia diminta untuk komitmen dan peduli terhadap isu perubahan iklim yang terjadi. Apalagi, kejadian iklim ekstrem terus berulang dengan luas wilayah terdampak semakin menyebar.

"Ini mengingatkan kita bersama untuk terus memperkuat upaya pengendalian perubahan iklim," ujar dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK Ruandha Agung Sugardiman mengatakan, dampak perubahan iklim dapat ditekan melalui pengendalian, pencegahan, serta aksi mitigasi oleh semua pihak.

"Target dari festival iklim adalah mewujudkan ketahanan ekonomi, sosial dan sumber penghidupan serta ketahanan ekosistem," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA