Ahad 03 Nov 2019 07:22 WIB

ISIS Klaim Serangan di Mali

Mali menyatakan serangan tersebut menjadi yang terburuk.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih
Serangan ISIS di Irak dan Suriah
Foto: VOA
Serangan ISIS di Irak dan Suriah

REPUBLIKA.CO.ID, BAMAKO -- Serangan yang terjadi di sebuah pos militer di Mali utara menewaskan 53 tentara dan satu warga sipil tewas. ISIS mengklaim tanpa bukti, bertanggung jawab atas serangan itu melalui kantor berita Amaq pada hari Sabtu, (2/11).

Kelompok militan itu telah memposting puluhan klaim tanggung jawab atas serangan di beberapa negara. Aksi ini terjadi sejak pasukan khusus Amerika Serikat menewaskan pemimpin sebelumnya Abu Bakar al-Baghdadi akhir pekan lalu.

Baca Juga

Pemerintahan Mali menyatakan, serangan tersebut menjadi yang terburuk ditunjukan kepada militer dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menyusul pecahnya kekerasan melibatkan kelompok militan di negara Afrika Barat itu.

Pemerintah Mali mengecam keras serangan kelompok millitan yang menyebabkan begitu banyak kematian di negara itu. Bala bantuan telah dikirimkan untuk mengamankan wilayah yang terkena serangan dan upaya untuk mencari pelaku.

Pihak berwenang pertama kali melaporkan serangan di Indelimane, wilayah Menaka, pada hari Jumat. "Orang-orang tak dikenal bersenjata berat menyerang sekitar siang hari. Serangan dimulai dengan tembakan peluru. Kemudian mereka mundur ke Niger,” kata juru bicara pemerintah Yaya Sangare.

Sangare menyatakan, jumlah korban dalam serangan awal itu belum dapat dipastikan karena dalam proses identifikasi. Ketika itu tentara sedang melakukan operasi tempur di darat dengan dukungan dari pasukan internasional, termasuk pasukan Prancis dari operasi Barkhane dan pasukan penjaga perdamaian Amerika Serikat.

"Bala bantuan yang dikirim menemukan 54 mayat termasuk satu warga sipil, 10 selamat, dan menemukan kerusakan materi yang cukup besar," kata Sangare di Twitter pada hari Sabtu.

Menurut sebuah pernyataan oleh kepresidenan Prancis, Prancis mengatakan salah satu tentaranya tewas setelah kendaraannya menabrak alat peledak. Serangan itu menyusul serangan milisi pada akhir September yang dapat meningkatkan jangkauan dan kecanggihan kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah tersebut.

Sebanyak 38 tentara Mali terbunuh pada 30 September dalam serangan terkoordinasi pada dua pangkalan militer di Mali tengah. Pukulan ini dapat dilakukan mesti wilayah tersebut dikendali pemerintah dengan bantuan tentara Prancis dan pasukan internasional lainnya.

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement