Kamis 21 Nov 2019 05:35 WIB

Cina Beri Pengaruh Besar untuk Sri Lanka

Rumah sakit yang besar di Srilangka mendapat bantuan China.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Muhammad Hafil
Presiden China Xi Jinping bersiap menyampaikan pidatonya saat makan malam peringatan 70 tahun China di Great Hall of the People di Beijing, Senin (30/9).
Foto: AP Photo/Andy Wong
Presiden China Xi Jinping bersiap menyampaikan pidatonya saat makan malam peringatan 70 tahun China di Great Hall of the People di Beijing, Senin (30/9).

REPUBLIKA.CO.ID,POLONARRUWA -- Di tengah sawah yang subur di Sri Lanka tengah, sebuah rumah sakit besar nan mewah sedang dibangun. Bangunan besar itu merupakan hasil suntikan investasi dari China yang mencapai 67 juta dolar AS.

Sejak proses pembangunan, dinding sekelilingnya dihiasi dengan foto-foto Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang. Tidak lupa dengan segudang pujian dari para pemimpin Sri Lanka atas proyek besar itu.

Baca Juga

Rumah sakit direncanakan buka awal tahun depan ini menjadi alternatif bagi masyarakat sekitar wilayah Polonarruwa. Ketika rumah sakit wilayah selalu padat, pembangunan ini dianggap akan sangat membantu.

"Ini benar-benar proyek yang bagus karena jumlah orang yang menderita di daerah ini. Saat ini, kami berjuang untuk pemeriksaan rutin dan cuci darah," kata mantan pegawai negeri yang sudah menjalani transplantasi ginjal Lakmal Prasad.

Rumah sakit yang akan dikhususkan untuk  masalah ginjal menjadi jalan China mendapatkan dukungan dari negara itu. Namun, di tengah pembangunan proyek ini, Sri Lanka menghadapi penambahan hutang dan meningkatkan kekhawatiran tentang pengaruh ekonomi dan politik yang berlebihan.

China telah menginvestasikan sekitar 11 miliar dolar AS di Sri Lanka. Sekitar 8 miliar dolar AS dalam bentuk pinjaman terkait dengan program Xi Belt and Road Initiative yang dirancang untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan transportasi di seluruh Asia.

Perusahaan-perusahaan China, yang mempekerjakan ribuan pekerja lokal, telah membangun pelabuhan raksasa dan rencana untuk membangun pembangkit listrik dan jalan bebas hambatan juga. Hanya saja, persyaratan dari beberapa proyek tersebut telah menuai kritik dari para politisi di Sri Lanka dan luar negeri.

"Kami mengharapkan perusahaan membantu rakyat Sri Lanka dengan sumbangan dan pekerjaan tanggung jawab sosial perusahaan," kata Duta Besar China untuk Sri Lanka Cheng Xueyuan bulan lalu.

China juga telah menyelesaikan dua fasilitas air di bagian pulau yang kering. Sementara fasilitas ketiga dan terbesar hampir selesai, akan memasok air minum bersih ke desa-desa di daerah Puttalam.

Namun, fokus China terletak pada mega proyek pelabuhan selatan baru Hambantota. Tempat ini dekat salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, menelan biaya 1,4 miliar dolar AS.

Untuk mendukung kampanye keberadaan China, Beijing memanfaatkan stasiun radio yang dikelola pemerintahnya menyiarkan laporan tentang program ekonomi dan sosial yang didukung kedua negara dalam bahasa Sinhala. Bahkan, Beijing menawarkan pelajaran bahasa China untuk membantu meningkatnya jumlah orang Sri Lanka yang bekerja dengan orang China, dari pedagang grosir hingga manajer bank.

Untuk menjelaskan skala besar dari Belt and Road Initiative, Beijing telah mengajak para politisi, jurnalis, dan penduduk lokal Sri Lanka melakukan tur ke China. Mantan anggota dewan di kota Puttalam di China yang ikut tur Muhshi Rahmathullah mendapatkan gambaran tentang pembangunan yang akan memberi dampak.

"Mereka menunjukkan kepada kami pembangkit listrik dan mengatakan tidak akan ada dampak lingkungan.Mereka ingin menunjukkan bagaimana pembangkit listrik membantu mengembangkan negara," kata Muhshi.

Dengan hasil pemilihan presiden yang dimenangkan oleh Gotabaya Rajapaksa bulan ini, kerja sama dengan Bejing akan terus berjalan lancar. Saudara Gotabaya, mantan presiden Mahinda Rajapaksa, mendekati Tiongkok setelah perang saudara 26 tahun melawan separatis Tamil yang berakhir pada 2009.

Sebagian besar dunia menghindari Sri Lanka, menuduh Rajapaksa melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas selama konflik. China justru mengambil kesempatan untuk mengembangkan pos ke sebagian besar Asia, Afrika, dan seterusnya, termasuk merangkul Sri Lanka.

Ikatan dengan China memburuk pada 2015 dengan terpilihnya Maithripala Sirisena sebagai presiden. Waspada dengan meningkatnya pengaruh China dan meningkatnya hutang, dia menangguhkan semua proyek investasi dengan alasan dugaan korupsi dan harga yang terlalu tinggi. Sirisena akhirnya mengizinkan proyek untuk dilanjutkan pada tahun berikutnya, meskipun menuntut perubahan beberapa persyaratan.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement