Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Pengacara Kanada Dikritik karena Bela Myanmar

Jumat 13 Dec 2019 12:08 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Suasana pengadilan internasional (ICJ) kasus Rohingya di Den Haag, Belanda, Rabu (11/12). Pengacara Kanada William Schabas dikritik karena membela Myanmar di pengadilan.

Suasana pengadilan internasional (ICJ) kasus Rohingya di Den Haag, Belanda, Rabu (11/12). Pengacara Kanada William Schabas dikritik karena membela Myanmar di pengadilan.

Foto: Koen van Weel/EPA
Pengacara Kanada William Schabas dikritik karena membela Myanmar di pengadilan

REPUBLIKA.CO.ID, DEN HAAG -- Pengacara asal Kanada, William Schabas, dikritik karena membela Myanmar dalam pengadilan internasional (ICJ) terkait genosida atas etnis Rohingya di Rakhine. Schabas yang merupakan seorang sarjana internasional untuk studi genosida membantah bahwa tidak ada upaya genosida dalam operasi militer Myanmar pada 2017.

"William Schabas pada dasarnya telah menjual Rohingya untuk pemerintah Myanmar. Ini benar-benar perilaku terburuk, sangat tidak bermoral, dan bermuka dua," ujar Wakil Direktur Asia di Human Rights Watch, Phil Robertson dalam cicitan di Twitternya.

Pada 2010 Schabas membantu melakukan riset untuk sebuah laporan mengenai serangan sistematis terhadap Rohingya. Dalam riset tersebut, disimpulkan bahwa operasi militer Myanmar telah memenuhi ambang batas kejahatan internasional terhadap kemanusiaan.

Tiga tahun kemudian dalam sebuah film dokumenter Aljazirah, Schabas mengatakan terlepas dari legitimasi hak warga Rohingya untuk memiliki tempat tinggal, penggunaan kata genosida adalah sangat mengerikan. "Terlepas dari sejarah mereka, legitimasi hak mereka untuk tinggal, ini semua adalah peringatan bahwa agar tidak sembrono menggunakan kata genosida," ujarnya.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Schabas menolak kritik yang dilayangkan kepadanya. Pria itu mengatakan dirinya adalah pengacara internasional yang melakukan tugas untuk menangani kasus sesuai hukum internasional.

“Saya seorang pengacara internasional. Saya melakukan kasus hukum internasional. Kedua belah pihak punya hak untuk memiliki perwakilan yang kompeten. Jika orang tidak mengerti itu, itu bukan masalah saya," kata Schabas.

Dalam sidang di ICJ, Schabas mencoba untuk mengklarifikasi pernyataannya tahun 2013 dalam film dokumenter Aljazirah, The Hidden Genocide. Dia mengaku didesak untuk membuat pernyataan mengenai kasus genosida.

"Wartawan itu terus-menerus mencoba membuat saya menyebutkan kata genosida. Saya juga menolak karena saya tidak pernah mengatakan bahwa genosida terjadi di Myanmar," ujar Schabas.

Dalam wawancara Reuters, Schabas juga membalas kritik atas pandangannya tentang peristiwa di Srebrenica, Bosnia, ketika sekitar delapan ribu pria dan anak lelaki Muslim dibantai oleh pasukan Serbia Bosnia pada Juli 1995. Schabas mengatakan dia telah menerima bahwa Srebrenica adalah genosida.

“Saya tidak berdebat dengan siapa pun tentang apakah genosida terjadi di Srebrenica. Itu sudah diputuskan,” ujar Schabas.

Schabas mengatakan genosida adalah subjek yang sangat sensitif dan dapat memicu perdebatan. Selain itu, pembahasan mengenai genosida kerap memicu amarah. Dia mengatakan keputusannya untuk membela Myanmar bukan berdasarkan keputusan emosional tetapi profesional.

“Saya disewa sebagai pengacara, mereka adalah klien saya," kata Schabas.

Pada 2015, Schabas terpaksa mengundurkan diri sebagai ketua Komisi Penyelidikan PBB tentang Konflik Gaza. Pengunduran diri tersebut dilakukan setelah ada keluhan dari Israel tentang pekerjaan Schabas sebelumnya untuk Organisasi Pembebasan Palestina.

Direktur United Nation Watch Hillel Neuer mengatakan pada waktu itu Schabas telah melanggar tugasnya sebagai kepala penyelidikan Dewan HAM PBB. Selain itu dia telah membuat pernyataan merugikan termasuk seruannya untuk mendakwa perdana menteri Israel dan menyebutnya sebagai terdakwa favoritnya.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA