Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Warga Inggris Memilih di Pemilu Brexit

Kamis 12 Dec 2019 20:54 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Warga Inggris di London bagian selatan keluar dari tempat pemungutan suara usai memberikan suaranya dalam Pemilu pada Kamis (12/12).

Warga Inggris di London bagian selatan keluar dari tempat pemungutan suara usai memberikan suaranya dalam Pemilu pada Kamis (12/12).

Foto: Andy Rain/EPA
Warga Inggris bersiap memberikan suara untuk menentukan masa depan Brexit

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Warga Inggris siap menuju ke tempat pemungutan suara untuk menentukan masa depan Brexit, Kamis (12/12). Pemilu kali ini disebut-sebut menjadi terpenting demi mengabulkan Brexit di bawah naungan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Tempat pemungutan suara di 650 daerah pemilihan di Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara dibuka pada pukul 07.00 waktu setempat. Pemilihan akan ditutup pukul 22.00 ketika suara exit pools akan memberikan indikasi pertama dari hasilnya. Hasil resmi dari sebagian besar dari 650 konstituensi Inggris mulai masuk dari pukul 23.00 hingga 05.00.

Dilansir New York Times, para pemilih akan memilih siapa yang akan mewakili distrik lokal mereka, atau daerah pemilihan mereka, di parlemen. Total 650 anggota parlemen akan dipilih sebagai anggota House of Commons, yang memutuskan undang-undang dan kebijakan negara.

Pemilihan di Inggris secara tradisional berlangsung setiap empat atau lima tahun. Tetapi pada Oktober para anggota parlemen memilih kembali untuk yang kedua kali dalam beberapa tahun. Ini adalah pemilihan musim dingin pertama sejak 1974 dan yang pertama terjadi pada Desember sejak 1923.

Usai gagal mencapai Brexit pada tenggat waktu 31 Oktober lalu, Johnson menyerukan adanya pemilihan umum guna mematahkan apa yang ia sebut sebagai kelumpuhan politik pada Brexit. Di bawah slogan Get Brexit, Johnson berjanji untuk mengakhiri kebuntuan dan membelanjakan lebih banyak untuk kesehatan, pendidikan, dan dana keamanan.

"Kami dapat memiliki pemerintahan mayoritas Konservatif yang akan menyelesaikan Brexit dan mengeluarkan potensi Inggris," kata Johnson. "Pemilihan ini adalah kesempatan kita untuk mengakhiri kemacetan, tetapi hasilnya ada di depan mata," tambahnya.

Johnson dari Partai Konservatif hanya membutuhkan sembilan kursi lagi untuk mayoritas, yang akan memungkinkan dia mendorong kesepakatan Brexit tersendiri dengan Brussels dan membawa Inggris keluar dari blok pada akhir Januari.

Oposisi dari Partai Buruh Jeremy Corbyn mengatakan Konservatif adalah partai 'miliarder', sementara Buruh mewakili. "Anda dapat memilih keputusasaan dan memilih ketidakjujuran pemerintah ini, atau Anda dapat memilih partai Buruh dan mendapatkan pemeirntah yang dapat membawa harapan ke masa depan," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA