Rabu 12 Feb 2020 00:40 WIB

Takut Corona, Pasangan Singapura Menikah Lewat Live Stream

Tamu undangan dan keluarga menyaksikan prosesi menikah dari gawai masing-masing.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Indira Rezkisari
Seorang pria memakai masker di sebuah stasiun kereta api di  Singapura, Rabu (29/1/2020). Kekhawatiran terhadap corona membuat sepasang pengantin menikah secara live streaming.
Foto: EPA-EFE/Wallace Woon
Seorang pria memakai masker di sebuah stasiun kereta api di Singapura, Rabu (29/1/2020). Kekhawatiran terhadap corona membuat sepasang pengantin menikah secara live streaming.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Penyebaran virus corona tak hanya berdampak pada kesehatan, ekonomi ataupun perjalanan. Baru-baru ini, pasangan asal Singapura, Joseph Yew dan istrinya, Kang Ting, juga terpaksa harus melakukan pernikahan lewat live streaming karena kekhawatiran penyebaran virus.

"Kami ingin menunda pernikahan, tetapi hotel tidak mau," kata pasangan itu seperti dilansir Travel and Leisure, Selasa (11/2).

Baca Juga

Pihak hotel menegaskan, semua penyewaan telah diatur dan tak bisa dinegosiasikan. Dengan pertimbangan itu, pasangan Singapura yang akan menikah tak bisa mengundur acara itu.

Berdasarkan laporan, pasangan itu disebut baru kembali dari China beberapa hari sebelum pernikahannya. Alhasil, untuk meminimalisir kekhawatiran, mereka memperbolehkan tamu undangan untuk menyaksikan momen itu lewat video dan dari jarak aman, meskipun sebenarnya para tamu dan teman bersemangat untuk datang.

Menurut pasangan, pihak orang tua pada awalnya juga menolak untuk mengikuti permintaan lewat live stream itu. Termasuk dari para tamu yang merasa terkejut awalnya.

"Orang tua saya pada awalnya tidak [senang tentang hal itu], tetapi mereka akhirnya setuju,"katanya.

lebih jauh, suasana waspada dari para tamu, dan pemikiran negatif pada saat pernikahan juga menjadi alasan mengapa metode itu dipilih. Meski harus melakukan pernikahan dengan cara itu, mereka mengaku tak bersedih.

"Kami berterima kasih kepada para tamu dan menyuruh mereka menikmati makan malam. Saya pikir tidak ada pilihan lain, jadi [saya] tidak menyesal," kata Yew.

Virus corona telah menyebar dengan cepat ke berbagai negara. Bahkan korban meninggal akibat epidemi sejak Desember itu, telah mencapai 1.000 jiwa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus itu disebut sebagai darurat kesehatan global.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement