Rabu 30 Mar 2022 05:39 WIB

Uni Eropa Minta Taliban Buka Sekolah untuk Perempuan

Taliban melarang wanita bersekolah.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Muhammad Hafil
 Perempuan Afghanistan menghadiri seminar untuk menyoroti masalah yang dihadapi oleh perempuan Afghanistan dan untuk menyoroti hak-hak perempuan dalam cahaya Islam, pada hari perempuan internasional di Kabul, Afghanistan, 08 Maret 2022. Hari Perempuan Internasional diperingati pada tanggal 08 Maret untuk menyoroti perjuangan wanita di seluruh dunia. Dicanangkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai hari hak-hak perempuan dan perdamaian dunia pada tahun 1977.
Foto: EPA-EFE/STRINGER
Perempuan Afghanistan menghadiri seminar untuk menyoroti masalah yang dihadapi oleh perempuan Afghanistan dan untuk menyoroti hak-hak perempuan dalam cahaya Islam, pada hari perempuan internasional di Kabul, Afghanistan, 08 Maret 2022. Hari Perempuan Internasional diperingati pada tanggal 08 Maret untuk menyoroti perjuangan wanita di seluruh dunia. Dicanangkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai hari hak-hak perempuan dan perdamaian dunia pada tahun 1977.

REPUBLIKA.CO.ID,BRUSSELS -- Uni Eropa pada Senin (28/3/2022) waktu setempat meminta Taliban untuk segera membuka kembali sekolah menengah untuk anak perempuan di Afghanistan. Hal ini didesak seusai Taliban memutuskan untuk kembali melarang perempuan bersekolah.

Dalam sebuah deklarasi yang dikeluarkan atas nama blok Eropa, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengecam keputusan Taliban untuk mengecualikan lebih dari 1 juta anak perempuan dari pendidikan menengah di negara itu.

Baca Juga

"Tidak ada alasan agama atau sosial yang bisa membenarkan perlakuan tidak setara seperti itu," tegas Borrell seperti dilansir laman Anadolu Agency, Selasa (29/3).

Borrell menyebut langkah Taliban sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hak dasar atas pendidikan untuk semua anak. Dia mengingatkan bahwa keputusan itu mundur dari komitmen rezim Taliban sebelumnya. 

Ini pun merusak peluang mereka sendiri untuk mendapatkan legitimasi domestik serta kredibilitas di mata mitra internasional. Borrell juga memperingatkan bahwa bantuan Uni Eropa untuk Afghanistan telah dikondisikan untuk memastikan hak-hak perempuan dan akses yang sama ke pendidikan. Menurutnya keputusan saat ini kecuali segera dibatalkan, akan memiliki implikasi yang luas.

"Pendidikan perempuan diperlukan untuk partisipasi penuh, setara, dan bermakna perempuan dalam masyarakat Afghanistan," kata Borrell. Ia pun meyakinkan perempuan Afghanistan tentang dukungan Uni Eropa yang tak tergoyahkan.

Afganistan kembali membuka sekolah pada Rabu pekan lalu setelah hampir tujuh bulan tutup. Namun anak perempuan di atas kelas enam dilarang pergi ke sekolah dan diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah.

Pada Oktober, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen mengumumkan paket bantuan 1.1 miliar dolar AS untuk didistribusikan langsung ke rakyat Afghanistan dengan bantuan badan-badan PBB. Uni Eropa telah menekankan bahwa bantuan itu didedikasikan untuk orang-orang Afghanistan yang membutuhkan.

Uni Eropa juga bersikeras pada kebijakan lima tolok ukurnya sebagai prasyarat untuk terlibat dengan pemerintahan Taliban tanpa mengakui pemerintah. Kondisi ini dibutuhkan untuk perang melawan terorisme internasional.

Selain itu, penghormatan terhadap hak asasi manusia, terutama hak-hak perempuan, pembentukan pemerintahan yang inklusif dan representatif, akses gratis ke bantuan kemanusiaan, dan pemberian bebas keberangkatan bagi warga negara asing dan warga Afghanistan yang berisiko.

Sumber:

https://www.aa.com.tr/en/europe/eu-calls-on-taliban-regime-to-reopen-schools-for-girls/2548436

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement