Rabu 07 Sep 2022 00:07 WIB

Dibayar untuk Tidak Melakukan Apa-Apa

Morimoto mematok tarif 10 ribu yen untuk menemani kliennya.

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha
Seorang pria beristirahat di puncak gunung Hakoneyama di sebuah taman di Tokyo, Jepang, Selasa, 6 September 2022. Shoji Morimoto tampaknya memiliki pekerjaan impian semua orang: ia dibayar untuk tidak melakukan apa-apa.
Foto: AP Photo/Hiro Komae
Seorang pria beristirahat di puncak gunung Hakoneyama di sebuah taman di Tokyo, Jepang, Selasa, 6 September 2022. Shoji Morimoto tampaknya memiliki pekerjaan impian semua orang: ia dibayar untuk tidak melakukan apa-apa.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Shoji Morimoto tampaknya memiliki pekerjaan impian semua orang: ia dibayar untuk tidak melakukan apa-apa. Warga Tokyo berusia 38 tahun itu menetapkan tarif sebesar 10 ribu yen pada kliennya untuk sekadar ada, menemani mereka.

"Pada dasarnya saya menyewakan diri saya sendiri, pekerjaan saya adalah menjadi apa yang klien inginkan dan tidak ada yang spesifik," kata Morimoto, ia menambah sudah menjalani sekitar 4.000 sesi selama empat tahun terakhir.

Baca Juga

Dengan tubuh kurus dan penampilan yang biasa saja, Morimoto kini memiliki hampir seperempat juta pengikut di media sosial, tempat ia biasanya mendapatkan klien. Hampir seperempatnya merupakan pelanggan, termasuk satu orang yang sudah menyewanya sebanyak 270 kali.

Pekerjaannya membawanya ke taman dengan orang yang mengajaknya bermain jungkat-jungkit. Ia juga melambaikan tangan dan melempar senyuman ke jendela kereta pada orang yang ingin merasa diantar.

Tidak melakukan apa pun artinya bukan Morimoto sama sekali tidak melakukan apa-apa. Ia menolak tawaran untuk memindahkan kulkas dan pergi ke Kamboja dan tidak menerima permintaan seksual apa pun.

Pekan lalu Morimoto duduk di seberang Aruna Chida, seorang analis data berusia 27 tahun. Mereka berbincang di sela minum teh. Chida ingin mengenakan sari, pakaian tradisional India di publik tapi takut membuat malu teman-temannya. Jadi ia meminta ditemani Morimoto.

"Bersama teman-teman saya, saya merasa harus menghibur mereka, tapi dengan orang sewaan (Morimoto) saya tidak merasa harus cerewet," katanya.

Sebelum mendapat gagasan menjalankan pekerjaan ini Morimoto bekerja di perusahaan penerbitan. Ia sering dimarahi karena "tidak melakukan apa-apa."

"Saya mulai bertanya-tanya apa yang terjadi bila saya menawarkan kemampuan saya 'tidak melakukan apa-apa' sebagai jasa pada klien," katanya.

Kini bisnis pertemanannya menjadi satu-satunya sumber pendapatan Morimoto yang ia gunakan untuk menafkahi anak dan istrinya. Walaupun ia menolak mengungkapkan berapa pendapatan yang ia terima ia mengatakan bertemu satu atau dua klien per hari. Sebelum pandemi bisa tiga sampai empat klien per hari.

Menghabiskan hari Rabu (6/9/2022) di Tokyo tanpa melakukan apa-apa Morimoto merenungi sifat aneh pekerjaannya. Ia mempertanyakan betapa masyarakat terlalu menghargai produktivitas dan mencemooh ketidakbergunaan.

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement