Sunday, 1 Jumadil Awwal 1443 / 05 December 2021

Sunday, 1 Jumadil Awwal 1443 / 05 December 2021

Israel Cabut Izin Kunjungan Ramadhan 83 Ribu Warga Palestina

Kamis 09 Jun 2016 15:36 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Teguh Firmansyah

Benjamin Netanyahu

Benjamin Netanyahu

Foto: AP/Gali Tibbon

REPUBLIKA.CO.ID,  YERUSALEM -- Israel pada Kamis (9/6), menangguhkan izin istimewa bagi warga Palestina untuk mengunjungi Israel selama Ramadhan dan memperketat patroli di Tel Aviv. Penangguhan dilakukan setelah serangan pada Rabu (8/6) malam, yang menewaskan empat warga Israel.

Badan Pertahanan Israel, COGAT, mengatakan 83 ribu izin untuk warga  Palestina di Tepi Barat untuk mengunjungi kerabat mereka di Israel selama bulan Ramadhan telah dibekukan. Israel selama ini menganggap izin Ramadhan merupakan niat baik kepada warga Palestina.

Izin spesial Ramadhan juga ditangguhkan untuk warga Palestina di Jalur Gaza. Termasuk di antaranya izin mengunjungi kerabat di Israel, bepergian ke luar negeri dan melakukan shalat di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Selain itu, militer juga membekukan izin kerja 204 kerabat penyerang Israel. Mereka melarang warga Palestina meninggalkan dan memasuki Desa Yatta di Tepi Barat yang merupakan kampung halaman para penyerang. COGAT mengatakan izin pergi dan masuk wilayah itu hanya untuk kasus-kasus kemanusiaan dan medis.

Di Tel Aviv, juru bicara polisi Micky Rosenfeld mengatakan unit polisi tambahan dikerahkan terutama di sekitar stasiun bus dan kereta api di pusat kota.  Namun Israel pada Kamis pagi, telah membuka kembali area luar kafe lokasi penembakan terjadi.

Penembakan itu terjadi di Pasar Sarona yang merupakan tempat wisata populer dengan deretan toko-toko dan restoran. Kompleks ini berada di seberang jalan markas militer Israel dan sering dipenuhi dengan turis serta tentara muda berseragam.

Baca juga, Tega! Tentara Israel Tembak Wanita Palestina Hingga Tewas.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertemu dengan menteri pertahanan dan pemimpin keamanan tak lama setelah serangan dan kemudian melakukan perjalanan ke tempat kejadian. Dia menyebut serangan sebagai pembunuhan berdarah dingin oleh teroris keji.

Hamas yang memerintah Gaza, menyambut serangan itu tapi tidak mengaku bertanggung jawab atas serangan. Pejabat Hamas Mushir al-Masri menyebut penembakan sebagai sebuah "operasi heroik". Hamas menjanjikan kepada "Zionis" bahwa akan ada lebih banyak "kejutan" selama bulan suci Ramadhan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA