Rabu 26 Feb 2014 05:03 WIB

Harga Minyak Jatuh Jelang Laporan Persediaan AS

Harga Minyak Naik (Ilustrasi)
Foto: Mentalfluss Blogspot
Harga Minyak Naik (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak dunia jatuh pada Selasa (25/2) atau Rabu (26/2) pagi WIB, karena para pedagang memperkirakan kenaikan dalam persediaan minyak mentah komersial AS dan khawatir tentang kesehatan ekonomi China.

Kontrak utama minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate untuk pengiriman April, turun 99 sen menjadi ditutup pada 101,83 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan April merosot 1,13 dolar AS menjadi menetap di 109,51 dolar AS per barel, dari penutupan Senin (24/2).

Pasar tampak berada di bawah tekanan dari aksi ambil untung menjelang laporan data persediaan minyak mingguan AS pada Rabu, kata Tim Evans dari Citi Futures. Laporan Departemen Energi AS (DoE) "diperkirakan akan menunjukkan penumpukan kecil dalam total stok minyak mentah dan penurunan moderat dalam persediaan distilat dan bensin," katanya.

Para pedagang memperkirakan peningkatan satu juta barel, "sebuah situasi di mana tempat penyimpanan minyak mentah akan naik untuk minggu keenam berturut-turut," kata Bob Yawger dari Mizuho Securities USA. "Itu saja cenderung memberi tekanan pada pasar."

Ada kekhawatiran tentang pembatasan baru di China terhadap pinjaman di pasar properti konsumen energi terbesar dunia, kata Addison Armstrong dari Tradition Energy. "Industrial Bank China telah mengumumkan pembatasan pada kredit properti hingga akhir Maret, memicu kekhawatiran bahwa perlambatan dalam pembangunan properti akan menghambat permintaan untuk komoditas," kata Armstrong.

Phil Flynn dari Price Futures Group menunjuk yuan China yang mencapai posisi terendah enam bulan. Penurunan mata uang "telah membuat pedagang bertanya-tanya apakah ini merupakan pertanda buruk dari roda perekonomian China mendatang."

"Ini juga membuat pedagang bertanya-tanya tentang akibatnya untuk pasar-pasar negara berkembang lainnya yang telah kesulitan dalam era baru pemangkasan stimulus AS."

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement