Jumat 31 Mar 2017 04:41 WIB

Libya Minta Eropa Sediakan Kapal untuk Hentikan Migran

Seorang migran membawa bayinya yang berusia lima hari usai diselamatkan di Libya, Senin, 29 Agustus 2016.
Foto: Emilio Morenatti/AP
Seorang migran membawa bayinya yang berusia lima hari usai diselamatkan di Libya, Senin, 29 Agustus 2016.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Libya telah meminta Uni Eropa menyediakan kapal dan radar guna membantu pasukan negara itu menghentikan penyelundupan migran menyeberangi Laut Tengah, kata sejumlah sumber di Brussels.

Mereka mengatakan para menteri luar negeri negara-negara Uni Eropa akan meninjau "daftar belanja" tersebut pada pertemuan para menteri luar negeri di Luksemburg, Senin. Namun, sumber-sumber itu mengatakan Uni Eropa tidak akan dapat memenuhi semua permintaan.

Kelompok negara-negara Eropa tersebut memberikan dukungan kepada pemerintahan Perdana Menteri Fayez Seraj, dengan harapan bahwa pemerintah Libya bisa mengambil kendali setelah negara itu bertahun-tahun ditimpa kerusuhan dan bentrokan.

Sebagai imbalannya, Uni Eropa menginginkan Seraj membantu mencegah para pengungsi dan migran Afrika berangkat dari perairan Libya menuju Eropa.

"Kita sudah menerima permintaan resmi dan (permintaan) itu sedang dipertimbangkan," kata seorang diplomat senior Uni Eropa.

"Kita menginginkan (bantuan) dikaitkan dengan tugas yang sedang kita jalankan di perbatasan-perbatasan untuk memastikan bahwa (bantuan) itu digunakan secara efektif."

Uni Eropa sudah mulai memberikan pelatihan bagi para penjaga pantai Libya untuk menyergap kapal-kapal penyelundup serta memulangkan mereka kembali ke Libya.  Tahun lalu, negara Afrika utara itu menjadi titik pemberangkatan utama bagi orang-orang yang berupaya mencapai Eropa melalui Italia. Rute itu dikenal sebagai jalur berbahaya yang dikhawatirkan Uni Eropa akan semakin ramai karena, pada musim semi, lautan menjadi lebih tenang.

"Banyak sekali yang harus dibeli, termasuk berbagai jenis kapal dan radar serta peralatan lainnya," kata seorang diplomat senior lainnya. "Kita perlu mengurainya terlebih dahulu tetapi, yang pasti, kita tidak bisa memenuhi semuanya (permintaan)."

Menurut diplomat pertama, para menteri juga akan membahas peranan Rusia di Libya di tengah kekhawatiran yang meningkat di kalangan Uni Eropa sehubungan dengan langkah Moskow mengadili Khalifa Haftar, panglima perang yang menentang kekuasaan Seraj.

Selain itu, para menteri akan membahas kunjungan baru-baru ini ke Libya oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), yang merupakan badan Perserikatan Bangsa-bangsa.

Uni Eropa telah memutuskan untuk meningkatkan pendanaan bagi IOM guna membantu organisasi itu meningkatkan kondisi kamp-kamp migran di Libya. Uni Eropa juga memutuskan akan menyediakan dana dan berbagai bantuan lainnya untuk membantu orang-orang yang terdampar di Libya dan yang ingin kembali ke negara-negara di selatan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement