Rabu 10 May 2017 14:24 WIB

Mengenal Moon Jae-in, Pengungsi Korut yang Jadi Presiden Korsel

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
Presiden terpilih Korea Selatan Moon Jae-in menyapa tetangga dan pendukungnya saat meninggalkan rumah di Seoul, Korea Selatan, Rabu, 10 Mei 2017.
Foto: AP Photo/Lee Jin-man
Presiden terpilih Korea Selatan Moon Jae-in menyapa tetangga dan pendukungnya saat meninggalkan rumah di Seoul, Korea Selatan, Rabu, 10 Mei 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL – Moon Jae-in telah terpilih sebagai Presiden Korea Selatan (Korsel) yang baru. Ia mengalahkan dua kandidat calon presiden lainnya yakni Hong Joon-pyo dan Ahn Cheol-soo pada pemilu yang digelar Selasa (9/5) lalu.

Moon memiliki sejarah yang cukup menarik. Ia merupakan anak pengungsi asal Korea Utara (Korut). Ketika Perang Korea meletus, kedua orangtuanya meninggalkan Korut dan pindah ke Korsel. Ketika dia lahir tahun 1953, keluarganya tinggal di pulau selatan Geoje.

Menurut otobiografinya, ayahnya bekerja di sebuah kamp tawanan perang. Sedangkan ibunya merupakan penjual telur di kota pelabuhan Busan.

Pada 1972, Moon mulai menempuh pendidikan di sekolah hukum. Namun ia tak lama berada di sekolah tersebut. Moon ditangkap karena memimpin demonstrasi menentang peraturan otoriter Park Chung-hye, yang notabene ayah dari mantan presiden Korsel yang baru saja dimakzulkan karena kasus korupsi, Park Geun-hye. Ia dikirim ke penjara.

Enam tahun kemudian, Moon yang telah bebas mendirikan sebuah firma hukum yang konsen pada isu-isu hak asasi manusia dan hak-hak sipil. Ia membuka firmanya di Busan bersama rekannya Roh Moo-hyun, yang belakangan juga menjadi presiden Korsel.

Mantan rekannya di firma tersebut, Seol Dong-il, mengingat Moon sebagai pribadi yang tekun dan kutu buku. Ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan pengadilan.

Seol juga kerap melihat Moon menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengar keluhan dari para kliennya. “Ketika para pekerja meminta nasihat darinya, Moon biasanya duduk berjam-jam untuk mendengarkan mereka,” ungkap Seol seperti dilaporkan laman BBC.

Moon dan Roh Moo-hyun akhirnya menjadi tokoh terkemuka dalam gerakan pro-demokrasi yang terjadi di Korsel. Gerakan ini menghasilkan pemilihan demokratis pertama Korsel pada 1987. Pada momen ini, Roh memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Sedangkan Moon memilih untuk mengelola firmanya dan membantu warga sipil yang membutuhkan advokasi hukum.

Pada 2003, Roh terpilih menjadi presiden Korsel. Kala itu Roh segera menjadikan Moon sebagai pembantu utamanya. Sejak saat itu Moon selalu dijuluki “Shadow of Roh” atau Bayangan Roh.

Kendati dipilih langsung oleh presiden untuk membantunya, Moon agak rikuh dengan jabatannya. Pada 2011, Moon pernah menulis, “Saya selalu merasa tidak nyaman. Saya merasa pekerjaan itu (pembantu utama presiden) tidak cocok untuk saya, seolah-olah saya mengenakan pakaian yang tidak sesuai. Saya selalu berpikir ‘Saya akan kembali ke tempat saya, menjadi pengacara.”

Pada 2007, Moon sempat mendapat tudingan miring dan kecaman keras. Pemerintahan saat itu dituduh telah berkonsultasi dengan Korut sebelum memutuskan abstain dalam sebuah voting PBB mengenai resolusi hak asasi manusia melawa Korut pada 2007. Moon membantah tuduhan tersebut.

Pada 2009, Moon harus kehilangan kawan seperjuangannya, Roh Moo-hyun. Dia bunuh diri setelah penyidik korupsi menuduhnya menerima suap senilai 4,6 juta dolar AS.

Dalam memoar 2011 Moon menulis bahwa hidupnya sangat banyak dipengaruhi oleh Roh. “Dia benar-benar mendefinisikan hidup saya. Hidup saya akan banyak berubah jika saya tidak bertemu dengannya. Jadi dia adalah takdir saya,” tulis Moon dalam memoarnya. 

Bertolak dari momen tersebut, Moon akhirnya memutuskan untuk mencoba mencalonkan diri sebagai presiden Korsel. Pencalonan perdananya terjadi pada 2012 lalu. Tapi perolehan suaranya masih kalah tipis dengan Park Geun-hye.

Pada 9 Mei 2017, lebih dari dua dekade setelah dia memimpin Korsel menuju pemilihan demokratis perdananya, Moon terpilih sebagai presiden. Tugas berat telah menantinya, terutama berkaitan dengan ketegangan di Semenanjung Korea yang dipicu oleh proyek rudal nuklir Korut.

Dalam sebuah buku yang dirilis tahun ini, Moon mengungkapkan bahwa dia masih memimpikan untuk kembali ke kota asalnya di Korut, yakni di Hungnam. “Ketika reunifikasi damai datang (Korsel-Korut), hal pertama yang ingin saya lakukan adalah membawa ibu saya yang telah berusia 90 tahun pergi ke kota asalnya (Hungnam),” tulis Moon dalam bukunya.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement