Rabu , 22 November 2017, 11:34 WIB

13 Perusahaan Cina dan Korut Terdampak Sanksi AS

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Ani Nursalikah
reuters
Rudal yang diluncurkan korea utara
Rudal yang diluncurkan korea utara

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pada Selasa (22/11) waktu setempat Amerika Serikat (AS) meluncurkan sanksi terbaru terkait dengan program nuklir dan rudal Korea Utara (Korut). Sanksi baru diberlakukan terhadap 13 perusahaan Cina dan Korut yang dianggap mendukung perekonomian Korut dan membantu ambisi program nuklirnya.

Departemen Keuangan AS mengumumkan tindakan tersebut satu hari setelah Presiden AS Donald Trump memasukkan Korut sebagai salah satu negara yang mendukung terorisme. Sanksi baru ini menunjukkan fokus pemerintahan Trump menghancurkan perdagangan antara Cina dan Korut yang dipandangnya sebagai kunci menghalangi ambisi nuklir Korut.

"Penunjukan ini akan menjatuhkan sanksi dan hukuman lebih lanjut kepada Korea Utara dan orang-orang terkait, dan mendukung kampanye tekanan maksimum kami untuk mengisolasi rezim pembunuh tersebut," kata Menteri Keuangan Steven T Mnuchin.

Adapun perusahaan-perusahaan tersebut di antaranya Dandong Kehua Economy & Trade Co, Dandong Xianghe Trading Co, dan Dandong Hongda Trade Co. Menurut Departemen Keuangan, mereka telah melakukan transaksi lebih dari 750 juta dolar AS dalam perdagangan gabungan dengan Korut selama hampir lima tahun sampai 31 Agustus. Mereka terlibat perdagangan bijih besi, timbal, seng dan perak, logam timah dan produk yang mengandung besi seperti komputer dan notebook.

Tidak hanya itu, Sun Sidong dan perusahaannya Dandong Dongyuan Industrial Co juga bagian dari daftar hitam AS. Menurut organisasi riset Washington C4ADS, perusahaan tersebut merupakan bagian dari jaringan perusahaan Cina yang saling terkait yang merupakan bagian terbesar dari perdagangan dengan Korut.

Otoritas AS telah berulang kali menargetkan perusahaan dan individu dari kota Dandong di Cina, yang berbatasan dengan Korea Utara untuk memotong pendapatan ekspor utama Pyongyang dari penjualan sumber daya alam, seperti batubara.

Sanksi baru juga menimpa beberapa perusahaan Korea Utara yang mengirim pekerja ke negara-negara seperti Rusia, Polandia, Kamboja dan Cina. Otoritas AS mengatakan mereka berusaha memotong uang Korea Utara dari ekspor tenaga kerja.

 

Sumber : Reuters

Berita Terkait