Ahad , 13 Agustus 2017, 14:44 WIB

Cukup Menjadi Manusia untuk Paham Penderitaan Palestina

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agus Yulianto
Republika/Mahmud Muhyidin
 Pewakilan dari Palestine Syeikh Al Iman Abdul Qadir Al Mabhuh (kanan) menyampaikan paparanya saat acara talkshow Sound Of Humanity, Konser Cinta bagi Rakyat Palestina, disalah satu Caffe Sawangan, Depok, Kamis (3/8).
Pewakilan dari Palestine Syeikh Al Iman Abdul Qadir Al Mabhuh (kanan) menyampaikan paparanya saat acara talkshow Sound Of Humanity, Konser Cinta bagi Rakyat Palestina, disalah satu Caffe Sawangan, Depok, Kamis (3/8).

REPUBLIKA.CO.ID, Penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina dianggap sebagai bencana kemanusiaan yang harus menjadi perhatian dunia. Sebab, bencana yang menimpa warga Palestina, bukan hanya masalah bagi umat Islam saja.  

Itu setidaknya yang diungkapkan salah seorang warga Palestina, Ayman Almabhouh (30 tahun) kepada Republika saat menghadiri acara The Sound of Humanity yang diselenggarakan Dompet Dhuafa untuk Palestina, belum lama ini. Dia mengatakan, masalah yang menimpa warga Palestina bukan hanya masalah bagi umat Islam saja. Sebab, yang sebenarnya terjadi di Palestina adalah masalah kemanusiaan.

"Artinya, cukup kita menjadi manusia untuk paham tentang penderitaan warga Palestina, tidak harus menjadi umat Islam," kata Ayman.

Dia mengatakan, yang melawan penjajah Zionis Israel bukan hanya umat Islam Palestina saja. Masyarakat Nasrani dan Yahudi juga banyak yang menolak pemikiran Zionis yang gemar menjajah. Menurutnya, umat lain saja merasa ada masalah kemanusiaan yang terjadi di Masjid Al-Aqsha, Palestina. Maka, umat Islam seharusnya lebih peka lagi terhadap masalah yang terjadi di Palestina.

Ayman mengungkapkan, tapi kondisi umat Islam di negara-negara lain juga keadaannya tidak sedang baik karena mereka sedang diuji. Banyak terjadi bencana kemanusiaan seperti di Suriah. Di waktu yang bersamaan, negara-negara mayoritas Muslim yang seharusnya punya kekuatan untuk membantu Palestina malah sibuk dengan manuver-manuver politik.

"Seperti Arab Saudi malah mengembargo Qatar, ini bukan dalam rangka menyelesaikan krisis kemanusiaan yang dialami umat Islam di berbagai belahan bumi, ini bentuk langkah mundur dari kualitas umat Islam," ujarnya.

Dia menerangkan, kalau bicara tentang Palestina, seiring waktu berlalu, semakin banyak kejadian baru. Akses pendidikan warga Palestina semakin dipersempit dan dibatasi. Suplai makanan juga semakin lama semakin dibatasi. Hal ini sama-sama terjadi di Gaza dan Tepi Barat Palestina.

"Kalau bicara kondisi terakhir di Palestina, setiap hari semakin mengalami kemunduran, setiap hari keadaannya semakin mengenaskan," ungkapnya.

Meski banyak yang menilai kondisi di Tepi Barat lebih bagus daripada di Gaza, menurut Ayman, sebenarnya di Tepi Barat juga tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Sebab, akses-akses dikuasai orang-orang Zionis di Pemerintah Israel. Sehingga mereka leluasa mengatur hajat hidup orang-orang Palestina.

"Nilai-nilai kemanusiaan semakin hari semakin dilecehkan, hak-hak hidup masyarakat Palestina semakin hari semakin dikesampingkan," ujarnya.