Kamis , 05 Oktober 2017, 05:50 WIB

Dua Tahun Berselang, Palestina Mengenang Perlawanan Halabi

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Reiny Dwinanda
 Ekspresi pemuda Palestina saat terlibat bentrok dengan pasukan pendudukan Israel di dekat perbatasan Gaza dengan Israel, Sabtu (10/10). (REUTERS/Yasser Gdeeh)
Ekspresi pemuda Palestina saat terlibat bentrok dengan pasukan pendudukan Israel di dekat perbatasan Gaza dengan Israel, Sabtu (10/10). (REUTERS/Yasser Gdeeh)

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Menjelang sore pada Oktober dua tahun yang lalu, seorang penjaga toko di Kota Tua Yerusalem tengah memikirkan perjumpaannya dengan seorang pemuda yang meminta pemantik, meski tak membawa rokok.

Lamunannya buyar seketika begitu mendengar jeritan dan keributan besar. Saat melangkah keluar dari toko, ia melihat si pemuda tengah menusuk warga Yahudi pendatang dengan pisau.

Pemuda tersebut sebelumnya merebut pistol si pendatang dan menembakkannya ke pendatang lainnya. 

Pemilik toko itu segera merunduk di dalam tokonya. Dialah yang kemudian menceritakan kepada media local bahwa ia belum pernah melihat seorangpun yang melakukan serangan semacam itu dengan cukup tenang, bahkan sangat tenang. 

Pemuda itu adalah Muhannad Halabi. Mahasiswa hukum di Universitas Al-Quds tersebut berusia 19 tahun saat kejadian. Beberapa pekan kemudian ia akan genap 20 tahun.

Muhannad Halabi mati tertembak tentara Israel di tempat kejadian. Sebelum ajal menjemputnya, dua orang Israel tewas di tangannya. Dua orang lainnya terluka.

Tindakan Muhannad Halabi dianggap heroik oleh masyarakat Palestina. Peristiwa pada Oktober 2015 itu pun menjadi pemicu kebangkitan perlawanan perseorangan pemuda Palestina terhadap Israel. 

Pemakaman Muhannad Halabi menjadi yang terbesar yang pernah warga Tepi Barat saksikan sejak akhir Intifada II di 2005. 

Ayah dari Muhannad Halabi, Shafiq Halabi, menjelaskan anaknya tergerak melawan lantaran batinnya terluka mengetahui perempuan-perempuan Palestina disiksa secara fisik oleh petugas keamanan Israel di kompleks masjid Al Aqsa. Dia juga amat berduka dengan pembantaian Palestina saat perang melawan Israel di Jalur Gaza pada 2014.

Shafiq Halabi mengatakan pada Aljazirah bahwa putra Palestina hanya mengikuti kata hati.

"Mereka melihat tidak ada alternatif lainnya untuk menghadapi tekanan Israel kecuali dengan melancarkan perlawan," kata Halabi, Rabu (4/10).

Dua tahun berselang, serangan perseorangan telah mereda. Namun, serangan kali ini lebih bersifat sporandis dan telah menyebabkan setidaknya 285 orang Palestina dan 42 orang Israel terbunuh.

Menurut Palestinian Prisoners Center for Studies, 14 ribu Palestina ditangkap sejak Oktober 2015 hingga September 2017, termasuk di antaranya 3.100 anak dan 437 perempuan.

Serangan terakhir dilakukan oleh seorang buruh, Nimer Jamal. Tembakan ayah empat anak ini menewaskan empat petugas keamanan Israel di Har Adar, permukiman tempat ia bekerja.

Percikan gelombang perlawanan

Perlawanan yang sempat digadang-gadang sebagai Intifada III tersebut berakhir dengan serangan terputus-putus.

"Ini cuma percikan gelombang perlawanan, sebuah reaksi yang muncul akibat ketiadaan rencana aksi dari pemimpin Palestina untuk melawan pendudukan," komentar analis politik yang berbasis di Ramallah, Hani al-Masri. 

Menurut Masri, pergerakan yang ada saat ini tak mencerminkan upaya terorganisir yang dapat terakumulasi menjadi gerakan yang berkelanjutan.

Agar Intifada menjadi inklusif, Masri menjelaskan, gerakan harus memiliki kepemimpinan yang terpadu, sebuah agenda, dan tujuan. 

"Perpecahan politik antara Fatah dan Hamas telah menguras energi masyarakat Palestina," ujarnya.

Masri memandang, andaikan upaya rekonsiliasi berhasil, Palestina akan dapat merintis perlawanan yang lebih luas. "Akan tetapi, Otoritas Palestina tak percaya akan Intifada atau teknik perlawanan komprehensif," komentarnya. 

Serangan akan berlanjut

Shafiq Halabi memandang perlawanan para pemuda Palestina membuktikan mereka masih memiliki kesadaran dan rasa memiliki akan Tanah Airnya, terlepas dari kenyataan yang bertolak belakang.

"Kalau generasi yang lebih tua, mereka yang menyaksikan intifada pertama serta aktif di tahun 70-an dan 80-an, tidak menjadi bagian dari gelombang perlawanan berikutnya, itu bukanlah kebetulan," ujarnya.

Shafiq Halabi mengatakan, kondisi para pemuda Palestina saat ini sangat mengenaskan. Mereka telah menyaksikan betapa Otoritas Palestina selama 24 tahun ini tak berbuat apapun untuk memperbaiki keadaan mereka yang terus memburuk.

"Selama kekejaman dan kejahatan Israel terus terjadi, serangan pemuda Palestina akan terus berlanjut," ujarnya.