Rabu 08 Feb 2023 22:10 WIB

Indonesia Hadapi Tantangan Guna Lanjutkan Negosiasi Laut Cina Selatan

Aktifitas Cina semakin agresif di Laut Cina Selatan.

Red: Nidia Zuraya
Landasan terbang buatan China terlihat di samping bangunan di pulau buatan di Mischief Reef di gugusan pulau Spratlys di Laut China Selatan.
Foto: AP Photo/Aaron Favila
Landasan terbang buatan China terlihat di samping bangunan di pulau buatan di Mischief Reef di gugusan pulau Spratlys di Laut China Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia dihadapkan tantangan untuk memulai kembali negosiasi pedoman tata perilaku (Code of Conduct/CC) terkait sengketa Laut Cina Selatan setelah terhenti dua tahun akibat pandemi Covid-19. Menurut Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana dalam sebuah seminar di Jakarta, Rabu (8/2/2023), tidak mudah bagi Indonesia untuk memulai kembali perundingan di tengah suasana yang tidak kondusif.

Pasalnya, Cina, yang mengklaim sebagian besar Laut Cina Selatan berada di bawah kedaulatannya, justru semakin agresif dari waktu ke waktu, salah satunya dengan melakukan reklamasi pulau yang membuat hubungan antara Cina dan beberapa negara anggota ASEAN semakin memanas.

Baca Juga

"Selain itu, geopolitik persaingan antara AS dan sekutunya dengan Cina, serta negara anggota ASEAN yang tidak solid yang kemungkinan disebabkan oleh terafiliasi ke Cina atau AS," kata Hikmahanto.

Penyelesaian sengketa Laut Cina Selatan, menurut Hikmahanto, juga bergantung dan sangat diwarnai oleh ketegangan antara AS dan Cina yang kian meningkat. Selain Cina, setidaknya ada lima negara lain yang terlibat klaim atas perairan Laut Cina Selatan, yakni Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, serta Taiwan.

 

Akibat tindakan Cina yang makin agresif, Filipina pada awal bulan ini memberikan akses lebih luas kepada militer AS di empat pangkalan militer di negaranya. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan upaya menghalangi setiap langkah Cina menentang Taiwan.

Sementara itu, Cina, kata Hikmahanto, tidak mau berkompromi dan mundur dari klaim Sembilan Garis Putus mengingat kebutuhan sumber daya alam di Laut Cina Selatan sangat penting bagi eksistensi negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar itu.

ASEAN di bawah kepemimpinan Indonesia tahun ini bertekad untuk menyelesaikan proses negosiasi CoC Laut Cina Selatan demi menjaga perairan kawasan sebagai tempat yang damai, terbebas dari konflik bersenjata dan nuklir.

Indonesia juga akan menjalankan proses negosiasi yang lebih intensif serta mencari strategi baru sehingga CoC bisa segera dituntaskan. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan putaran lanjutan CoC itu akan digelar pada Maret di Jakarta.

"Anggota ASEAN berkomitmen untuk menyelesaikan negosiasi CoC sesegera mungkin guna melahirkan CoC yang substantif, efektif dan dapat ditindaklanjuti," ujar Retno usai pertemuan ASEAN Ministerial Meeting (AMM) di Jakarta, pekan lalu.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement