Jumat 04 Jun 2010 22:52 WIB

Ribuan Pelayat Antarkan Jenazah Para Relawan di Turki

Warga Turki memakamkan para relawan di Armada Flotilla yang terbunuh dalam serangan pasukan Israel.
Foto: SNAPSHOT VIDEO/REUTERS
Warga Turki memakamkan para relawan di Armada Flotilla yang terbunuh dalam serangan pasukan Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL--Ribuan warga Turki berduka atas terbunuhnya para relawan dalam serangan pasukan Israel, sambil mengangkat peti jenazah meneriakkan kalimat "Allahu Akbar" di Istanbul, Kamis (3/6) 

Pemimpin Turki mengatakan, Israel telah keliru mengartikan hubungan antar dua negara tersebut dan mendesak pembebasan para relawan dalam pertemuan di Ankara.

Ayah dari seorang relawan termuda yang terbunuh, Furkan Dogan baru berusia 19 tahun, memuji putranya wafat karena tujuan mulia. Almarhum adalah siswa dari sekolah menengah atas dengan dua kewarganegaraan yaitu Amerika serikat dan Turki.

Ahmet Dogan mengatakan kepada kantor berita pemerintah, Anatolia, bahwa ia mengidentifikasi putranya dalam sebuah kamar mayat dan putranya tersebut telah ditembak dahinya.

Namun, dia menegaskan, keluarga tidak merasa sedih karena Furkan meninggal dunia dengan terhormat.

"Saya merasa putra saya telah diberkahi dengan surga. Saya berharap dapat menjadi ayah yang bernilai bagi putra saya," ujarnya.

Furkan lahir di Troy, New York namun kemudian pindah ke New York pada usia dua tahun. Almarhum akan dimakamkan di kota asal keluarganya di Kayseri, pusat kota Turki, Jumat (4/6).

Furkan adalah salah seorang dari delapan relawan yang tewas pada serangan pasukan Israel di Gaza. Pemakaman para relawan itu dihadiri oleh ribuan orang.

Menyusul permintaan untuk penyelidikan penyerangan tersebut, Israel menolak panel internasional untuk menginvestigasi pengambilalihan kapal berdarah yang menyebabkan kematian para relawan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dengan tegas menolak permintaan untuk menghentikan blokade Hamas yang menguasai Gaza, dengan alasan menolak serangan nuklir terhadap negaranya.

Insiden itu telah meningkatkan ketegangan dengan negara-negara Timur Tengah, terutama Turki yang merupakan sekutu penting bagi Israel. Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan menyebut tindakan Israel sebagai "kesalahan bersejarah".

"Israel mempertaruhkan risiko kehilangan teman yang penting di kawasan ini, jika tidak segera mengubah mentalnya," ujar Erdogan.

"Mulai sekarang kita tidak akan tunduk terhadap tindakan kekerasan semacam ini," tegasnya.

Presiden Abdullah Gul mengatakan Israel berkomitmen untuk melakukan "Satu dari kesalahan terbesar dalam sejarahnya".

"Turki tidak akan pernah melupakan serangan ini. Hubungan antara Israel dan Turki tak akan pernah kembali seperti dulu," ujar Gul.

Pada hari Kamis (3/6), sekitar 10 ribu orang berdua di depan Mesjid Fatih Istanbul, sebelum peti jenazah delapan relawan Turki dan seorang Palestina dibariskan. Tujuh warga asli Turki dan seorang warga berkewarganegaraan Turki dan AS didoakan, mulai dari relawan termuda yaitu Furkan Dogan yang berusia 19 tahun hingg relaawan tertua berumur 60 tahun.

Seorang korban tewas Turki yang kesembilan akan dimakamkan dalam upacara pemakaman yang terpisah, Jumat (4/6).

"Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau, kami tahu akan menjadi martir untuk Palestina dan Yerusalem maka kami rela," ujar Bulent Yildirim, ketua dari grup Islamic Charity IHH yang mengorganisir Gaz flotilla, sebelum para pelayat membawa peti jenazah melalui kerumunan ke mobil untuk dimakamkan.

"Seluruh dunia mendukung kami. Kami akan mengguncang fondasi Zionis," teriaknya di hadapan kerumunan pelayat.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement