Selasa 29 Jun 2010 03:33 WIB

Amerika Kuasai Data Perbankan Eropa

ilustrasi
Foto: .
ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, AMSTERDAM--Baru sekitar lima tahun lagi Uni Eropa akan menyidik sendiri transaksi bank warga masyarakat biasa atas kemungkinan 'digunakan untuk tujuan teror'. Hingga saat itu, penyidikan dilakukan oleh Amerika Serikat.

Mengapa harus dikirim ke Amerika? "Karena transaksi keuangan seseorang bisa menjadi petunjuk bahwa yang bersangkutan punya hubungan dengan kelompok teroris," jawab seorang perunding Amerika, dalam pembicaraan mengenai Kesepakatan Swift, yang berlangsung seret dalam KTT G 8. Selama beberapa tahun ini Amerika mendapat mandat tanpa batas untuk ikut menilik data perbankan warga Eropa.

Namun, pelanggaran atas urusan pribadi warga Eropa ini segera akan berakhir, kata Alex Alvaro, anggota Parlemen Eropa, sehubungan tercapainya kesepakatan antara Eropa dan Amerika, mengenai hal ini. Semua pihak menyambut gembira kesepakatan tersebut, lanjut Alex Alvaro.

Perusahaan Swift, pengelola data transfer perbankan internasional, memang, tetap akan mengirim semua data yang ada ke AS. "Tapi, paling lama lima tahun lagi, suatu lembaga Uni Eropa sendiri yang akan menyidik data perbankan warga Eropa," kata Alex Alvaro. Paling lambat tahun 2015, Amerika tidak bisa lagi langsung memperoleh data tersebut.

Dalam hal ini, AS punya mandat tanpa batas. "Itu benar, dalam perundingan yang berlangsung, hal ini tidak bisa diganggu gugat," jelas Alex alvaro. "Namun, kita juga segera akan membuka kantor perwakilan di Amerika. Dan dengan demikian beberapa pejabat Eropa juga akan ikut melihat, apa yang dilakukan oleh para pejabat Amerika dengan data tersebut."

Lembaga independen Uni Eropa, the European Data Protection Supervisor, EPDS, mempertanyakan kegembiraan Fraksi Partai Liberal Eropa, yang menganggap kesepakatan ini sebagai suatu kemenangan. "Banyak pertanyaan mengenai perlindungan data pribadi warga Eropa perseorangan masih belum terjawab," kata Direktur EPDS, Peter Hustinx.

Bagaimana persisnya penyerahan data itu berlangsung? "Misalnya, bagaimana jika Amerika meminta data transaksi uang dari Belanda ke Pakistan, dari tanggal 1 hingga 30 September 2010. Tanpa banyak tanya, semua data tersebut akan dikirim," jelas seorang rekan Peter Hustinx.

"Kelompok Liberal Eropa terbuai oleh lobby Amerika," kata Robert Vleugels, pakar informasi Belanda yang tersohor. Ia yakin, Amerika tetap akan menguasai data perbankan Eropa. "Orang Amerika sangat cerdik. Berbarengan dengan jalannya perundingan di Parlemen Eropa, mereka juga mengadakan pembicaraan dengan masing-masing pemerintahan anggota Uni Eropa."

Amerika terutama menekan negara-negara anggota baru dari Eropa Timur, sembari mengeluarkan berbagai macam ancaman, seperti misalnya menghambat urusan perdagangan, kata Robert Vleugels. "Jika kalian bersikap keras dalam urusan Kesepakatan Swift ini, kami akan menerapkan ketentuan harus mengajukan visa masuk, bagi warga negara kalian yang ingin berkunjung ke Amerika. Begitu lah cara kerja mereka."

Walaupun saat ini sudah ada kesepakatan bahwa Uni Eropa lima tahun mendatang akan menyidik data perbankan mereka sendiri, keraguan di kalangan banyak pengamat masih besar. "Amerika dengan sabar akan terus mendekati dan mempengaruhi kalangan pro- dan anti kesepakatan ini di Eropa," kata seorang pejabat Uni Eropa yang menangani kebijakan ini, dengan permintaan agar namanya tidak disebut.

"Skenario paling buruk adalah jika Komisi Eropa dan Kepala Pemerintahan negara-negara anggota Uni Eropa melanggar kesepakatan ini," kata anggota Parlemen Eropa, Alex Alvaro. "Tapi, kesepakatan ini mengikat. Dan paling lama, lima tahun lagi, kita akan mengelola sendiri data tersebut. Jika perlu, pelanggaran atas kesepakatan ini, bisa kita adukan ke pengadilan."

sumber : www.rnw.nl
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement