Kamis 08 Jul 2010 01:36 WIB

Negara Lebih Kaya tak Berarti Warganya Lebih Sehat

Ilustrasi
Foto: .
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Saran salah satu penasihat utama Presiden Amerika Serikat Barack Obama bahwa negara harus kaya agar rakyatnya sehat tampaknya harus dikoreksi. Sebuah tim ilmuwan sosial Inggris yang mempelajari data dari 22 negara selama hampir 50 tahun untuk menguji prinsip bahwa menstimulasi pertumbuhan ekonomi secara otomatis meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat, khususnya di negara berkembang, menunjukkan hasil berbeda. Studi mereka dipublikasi di jurnal Social Science and Medicine.

Mereka mengemukakan, dari penelitian mendalam itu, dalam beberapa kasus kesehatan suatu populasi tetap memburuk bahkan setelah pendapatan nasional negara itu meningkat. "Hal ini karena masalah kemiskinan dan ketimpangan yang diabaikan oleh para pembuat kebijakan yang lebih khawatir tentang pertumbuhan ekonomi, sebuah strategi yang sungguh keliru," kata para peneliti.

Sekilas, teori itu masuk akal, namun pada praktiknya, tidak selalu demikian. "Argumen lebih kaya maka akan lebih sehat adalah gagasan bahwa jika Anda memiliki pertumbuhan ekonomi, Anda akan mendapatkan sumber daya yang akan membantu kesehatan masyarakat untuk meningkatkan secara keseluruhan, "kata Larry King, pimpinan departemen sosiologi Cambridge University, yang memimpin studi itu.

Dalam penelitiannya, tim King melihat efek dari kemiskinan dan ketimpangan di 22 negara Amerika Latin 1960-2007. Studi mereka dianalisis menggunakan tiga ukuran standar kesehatan masyarakat - usia harapan hidup, tingkat kematian bayi, dan angka kematian akibat penyakit TBC - terhadap produk domestik bruto (PDB) per kapita sebagai ukuran pertumbuhan ekonomi.

Hasil awalnya, masing-masing satu per kenaikan persen PDB terkait dengan 1,2 persen pengurangan angka kematian bayi dan peningkatan harapan hidup sekitar 22 hari.

Namun, ketika hubungan antara kekayaan dan kesehatan diperiksa di seluruh periode, dan termasuk distribusi kekayaan, pola yang berbeda muncul.

Selama periode ketika kesenjangan melebar, misalnya, studi ini menemukan bahwa 1 per kenaikan persen dalam PDB menyebabkan penurunan lebih rendah tingkat kematian bayi, dan tidak berpengaruh sama sekali pada tingkat kematian akibat tuberkulosis (TBC) atau harapan hidup.

Menurutnya, banyak aspek yang mendorong kesehatan masyarakat yang tak selalu terkait dengan kenaikan pendapatan. "Penelitian kami menemukan kekayaan yang tidak cukup. Jika para pembuat kebijakan ingin meningkatkan kesehatan, mereka perlu melihat lebih dekat pada dampak yang mereka inginkan terhadap standar kehidupan individu," ujarnya.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement