Senin 23 Aug 2010 20:52 WIB

Sekolah AS Mulai Larang Guru-Siswa Berkomunikasi Lewat Media Sosial

Rep: Agung Sasongko/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, FLORIDA--Tren facebook dikalangan guru mulai mendapat kecaman. Komunikasi antara guru dengan murid--yang kebetulan menjadi 'teman' si guru--dinilai tidak pantas.

Di AS, isu untuk membuat aturan khusus terkait fenomena berkomunikasi lewat jejaring sosial terus mengemuka. Salah satu sekolah di negara itu, Lee County School yang bahkan tengah membahas aturan untuk diterapkan pda tahun akademik 2010-2011.

Sekolah itu juga memberikan teguran keras kepada guru yang ketahuan berkomunikasi dengan siswanya via Facebook. "Tidak dibenarkan kepada para guru untuk berkomunikasi, apapun alasannya, dengan siswa yang terdaftar pada setiap jenis media sosial," demikian salah satu butir aturan yang tengah digarap tersebut. "Para guru juga tidak diperkenankan menerima siswa untuk menjadi 'teman' atau memungkinkan siswa memiliki akses ke web pribadi untuk alasan komunikasi," demikian salah satu butir aturan yang tengah digarap tersebut," lanjut butir peraturan tersebut.

Lee County School merupakan sekolah pertama yang berada dalam distrik Florida, AS yang melarang komunikasi antara guru dan siswa melalui media sosial. Menangapi hal itu, Direktur Komunikasi dan Layanan Publik Lee County Public Shcool, Josep Donzelli, mengatakan aturan yang dibuat sekolahnya bukanlah bentuk hukuman melainkan langkah pencegahan terhadap dampak meluasnya pengaruh media sosial dikalangan guru dan siswa.

"Kami tengah mendengar cerita buruk diberbagai wilayah di AS. Kami bukanlah polisi internet, kami hanya menginginkan guru dan siswa membuat putusan bijak sekaligus membantu mereka sendiri," ungkapnya seperti dikutip dari Liverscience, Ahad (22/8). Donzelli menambahkan semua pihak diseluruh AS tahu bahwa komunikasi antara guru dan siswa via surat elektronik, pesan singkat atau berbagai kasus lain merupakan hal yang tidak pantas.

Oleh karena itu, pihaknya meminta guru untuk lebih bijak dalam berkomunikasi dengan siswanya tidak didunia maya melainkan dalam koridor yang pantas. "Kami tidak menginginkan adanya masalah dikemudian hari," katanya.

Kecaman terhadap guru yang berkomunikasi dengan siswa berawal dari kasus yang terjadi di Pennsylvania. Kasus itu membuat geram pihak komite sekolah lantaran salah seorang guru mengunggah foto-foto pribadinya seperti foto pesta bujangan dalam akun facebook miliknya.

Celakanya, foto yang diunggah merupakan foto yang menampilkan guru tengah 'asyik' bersama seorang penari telanjang. Foto-foto itu tanpa sengaja dilihat oleh siswa yang kebetulan menjadi 'teman' si guru. AKibat dari kasus tersebut, si guru dihukum.

"Seorang pendidik hanya perlu membatalkan keinginan siswanya untuk menjadi teman. Tidak ada alasan khusus, mengapa guru harus menerima siswanya menjadi 'teman' di media sosial, padahal mereka bisa berkomunikasi melalui koridor kelas," komentar Donzelli.

Meski demikian, DOnzelli mengakui jejaring sosial tidak melulu berbicara tentang hal negatif. Namun, ia melihat ada koridor yang lebih pantas bagi guru untuk berkreasi. DOnzel menyebut laman sekolah sebagai alternatif pengganti jejaring sosial."Jika memang guru tetao melanjutkan komunikasi dengan siswanya via sekolah maka dia haruslah bijak menggnakannya," pungkasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement