Sabtu 11 Sep 2010 23:33 WIB

Sambut Paus, Korban Kekerasan Seksual Gereja Gelar Konferensi

Paus Benediktus
Paus Benediktus

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Para pria dan wanita yang mengaku mengalami kekerasan seksual oleh pendeta Katholik saat kanak-kanak akan menggelar konferensi di London, sebelum kunjungan Paus ke Skotlandia dan Inggris. Mereka berencana menyampaikan pesan kepada Paus dan mengompilasikan pesan-pesan itu dalam sebuah buku untuk diberikan padanya.

Paus Benediktus XVI dijadwalkan datang pada 16 September untuk melakukan lawatan empat hari

Sementara itu dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan BBC terhadap 500 pemeluk Katholik, 52 % responden mengatakan skala kekerasan dan bagaimana kekerasan dilakukukan serta cara gereja memperlakukan peristiwa itu, telah 'mengguncang kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan Gereja'.

Jajak pendapat itu dilakukan oleh ComRes--anggota Dewan Poling Inggris--menyurvei responden secara acak yakni pemeluk Katholik Roma di penjuru Inggris mulai 6 hingga 9 September 2010 lalu.

Sementara, konferensi korban kekerasan seksual di London akan dituanrumahi oleh grup pendukung yakni Minister Korban Kekerasan Seksual Oleh Pemuka Agama (MCSAS) pada Sabtu ini (11/9).

Grup tersebut memang dibentuk untuk mendukung para korban kekerasan seksual oleh para pastor atau biarawan dari seluruh paroki, baik mereka yang diserang saat anak-anak atau ketika dewasa.

Dalam konferensi tahun ini--bertema Kami Berbicara, Anda Mendengar--akan fokus pada korban bertahan Katholik dengan memberi mereka kesempatan berbicara dan mengungkapkan kisah, harapan serta mimpi kepada Paus Benediktus.

Pesan-pesan yang akan dibukukan bakal diberi judul "The testament we give you, hear us". Sementara para korban yang tak bisa hadir diminta untuk mengirimkan cerita dan komentar mereka sebelum konferensi dimulai untuk materi buku.

Banyak aktivis dan penggiat anti-kekerasan seksual dalam gereja di Inggris menerima bahwa Gereja Katholik Inggris dan Wales di Skotlandia telah berbuat banyak untuk mengenali masalah dan mencoba mengatasi serta menghapus praktik tersebut.

Namun beberapa korban mengaakan mereka masih membawa luka psikologis dan Gereja harus berbuat lebih banyak untuk memenuhi kewajiban terhadap mereka.

Salah satu korban, Peter Saunders, yang mengalami kekerasan seksual dari dua pendeta ketika masih kecil mengatakan, "Pelaku meninggalkan tanggung jawab kepada para korban mereka. Anda ditinggalkan dengan pemikiran. "Saya tidak bisa berkata apa-apa karena mungkin saya berubuat sesuatu, mungkin saya salah saya layak mendapatkan itu,".

Salah satu penggiat, DR Margaret Kennedy dari MACSAS, berkata, "Mereka telah meninggalkan dan mengabaikan para korban. Gereja sering berkata kekerasan itu adalah sejarah masa lalu yang terjadi dalam rentang waktu lama. Namun, itu bukan sejarah bagi korban, melainkan sekarang."

sumber : bbc
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement