Selasa 16 Nov 2010 05:29 WIB

Pekerjaan Rumah Sepulang Obama dari Indonesia

Rep: Wulan Tunjung Palupi/ Red: Endro Yuwanto
Barack Obama dan SBY
Barack Obama dan SBY

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Usai kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke Indonesia, Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel mengaku banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Kedua negara, lanjut Marciel, telah menyadari potensi yang dapat dikembangkan, misalnya dalam hal bisnis, perdagangan, serta isu global lainnya seperti kerja sama untuk mengatasi perubahan iklim.

Dalam pidatonya di Istana Negara, Rabu lalu, Presiden Obama mengungkapkan bahwa AS tidak ingin menjadi mitra dagang nomor tiga di Indonesia, melainkan nomor satu. Sebagai gambaran, tahun lalu perdagangan antara Indonesia-AS tercatat hanya sekitar 20 miliar dolar AS, sementara perdagangan dengan Malaysia mencapai 35 miliar dolar AS.

"Namun itu bukan berarti kami mencegah Indonesia berdagang dengan negara lain. Tapi pelaku bisnis di kedua negara mungkin sudah cukup lama tidak melihat Indonesia. Kini saatnya melihat ke sini lagi," ujar Marciel di kediamannya di Jakarta, Senin (15/11).

Jika Obama tidak menandatangani perjanjian apapun saat berada di Indonesia, lanjut dia, disebabkan karena pada dua kali masa penundaan kunjungan ke Indonesia, beberapa perjanjian telah ditandatatangani. Misalnya saja kesepakatan 'Peace Corps', kesepakatan kerjasama sains dan teknologi, serta kerjasama investasi swasta luar negeri. 

Terkait isu penjualan beberapa pesawat F-16 buatan AS ke Indonesia, Marciel menegaskan bahwa hal itu masih dibicarakan oleh kementerian pertahanan kedua negara. "Itu tergantung pemerintah Indonesia juga," tukasnya. Belum lama ini produsen pesawat jet F-16 menyatakan ada beberapa buah pesawat yang siap dipasarkan.

"Beberapa negara telah menyatakan minatnya termasuk Indonesia, tapi belum ada keputusan nantinya bagaimana," papar Marciel yang baru dua bulan menjabat sebagai duta besar di Indonesia. menurutnya terlalu dini jika membicarakan penjualan F-16 saat ini, karena pembicaraannya baru dilakukan sekitar 10 hari lalu. Kerjasama antara Indonesia dengan AS di bidang pertahanan, lanjut dia, misalnya pelatihan untuk menghadapi bencana, latihan penjaga pasukan perdamaian, dan pelatihan maritim.

Untuk mendorong sektor perdagangan dan bisnis antarkedua negara, lanjut Marciel, masih terdapat kendala, yakni adanya batasan investasi tertentu, kendala klasik infrastruktur, kepastian mengenai kontrak, serta isu korupsi.

Ia mencontohkan sektor bisnis yang menyimpan potensi untuk dikembangkan antara Indonesia-AS misalnya pembangunan pembangkit energi, energi terbarukan, agrikultur, dan kesehatan. ''Butuh banyak energi agar momentum yang baik ini dapat terus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik oleh ekdua negara," pungkasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement