Rabu 01 Dec 2010 02:40 WIB

Pemogokan Oposisi Lumpuhkan Bangladesh

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA--Ribuan polisi antihuru hara berpatroli di jalan-jalan ibu kota Bangladesh, Dhaka, Selasa (30/11) saat pemogokan nasional, yang diserukan partai oposisi, menyebabkan sebagian besar negara itu lumpuh. Satu bus kosong di kota itu dibakar oleh para aktivis yang memprotes pengusiran pemimpin ketua Partai Nasionalis Bangladesh (BNP)sekaligus mantan perdana menteri, Khaleda Zia, dari rumahnya.

Semua toko, tempat bisnis dan sekolah-sekolah ditutup dan jalan jalan sepi. "Lebih dari 10.000 polisi dikerahkan di seluruh negara itu-- kami memiliki pasukan keamanan yang mampu untuk mencegah aksi kekerasan," kata juru bicara polisi Dhaka Masudur Rahman.

Belasan aktivis oposisi BNP ditahah setelah serangan dan pembakaran mobil-mobil dan bus-bus pada malam menjelang pemogokan itu, kata wakil komandan polisi Abdul Baten kepada AFP. BNP mengatakan lebih dari 2.000 pendukungnya ditahan, dalam apa yang disebut Sekjen BNP Khandaker Delwar Hossain satu tindakan keras "yang kaku" oleh polisi.

"Mereka berusaha melarang para pendukung kami melakukan protes sah," katanya. BNP menyerukan pemogokan Selasa-- kedua dalam dua pekan-- untuk memprotes tindakan yang disebut "pengusiran paksa" Zia dari rumahnya.

Pada 13 November, polisi memasuki rumah Zia di Dhaka, memaksakan janda mantan diktator militer Ziaur Rahman berusia 65 tahun itu meninggalkan rumah tersebut. Zia telah tinggal di rumah itu selama hampir 40 tahun, tetapi sejumlah perintah pengadilan, yang berpuncak pada putusan Mahkamah Agung, Senin menetapkan kepemilikannya atas properti itu tidak sah.

Selama menjadi perdana menteri dari tahun 2001 sampai 2006, Khaled Zia membatalkan penyewaan jangka lama terhadap properti negara yang Perdana Menteri (sekarang) Sheikh Hasina tempati. Satu pergolakan kekuasaan antara dua wanita itu melanda Bangladesh selama puluhan tahun.

Para pengamat mengatakan kejadian-kejadian dalam dua pekan belakangan ini dapat menjadi awal babak baru konfrontasi politik, mengingat sering terjadi aksi kekerasan di jalan, yang dimasa lalu mempersulit ekonomi Bangladesh.

sumber : Ant
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement