Sabtu 04 Dec 2010 08:46 WIB

Meski Belum Diakui Cina, Taiwan Dapatkan Bebas Visa 96 Negara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Taiwan telah mendapatkan kemudahan bebas visa di 96 negara, di antaranya Uni Eropa dan menargetkan 100 negara pada tahun depan. Kemudahan itu diperoleh bertepatan dengan perayaan satu abad pembentukan pemerintahan pulau itu.

"Ini keberhasilan yang penting dalam sejarah diplomasi Taiwan," kata Presiden Taiwan Ma Ying Jeou dalam siaran pers yang diterima dari Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei di Jakarta, Jumat (3/12). Dia menambahkan, keberhasilan itu berkat kebijakan "diplomasi fleksibel", yang dicanangkan sejak dirinya menjabat pada 2008, yang membuka ruang gerak internasional lebih luas.

Presiden Ma mengatakan, pelayanan tersebut bukan saja menghematkan biaya permohonan visa, tetapi yang lebih penting merupakan bentuk suara kepercayaan yang diberikan kepada Taiwan.

Sebelumnya, ruang gerak Taiwan yang sempit diakibatkan berlakunya kebijakan "diplomasi konflik" serta hubungan dengan Cina daratan yang tidak harmonis. Sehingga upaya pembebasan visa dengan Uni Eropa dianggap sebagai tugas yang tidak mungkin terlaksana. Presiden Ma kemudian mengubah kebijakan diplomasi dan berperan aktif dalam memperbaiki hubungan dengan China, Uni Eropa secara terbuka memberikan dukungan.

Kementerian Luar Negeri Taiwan memanfaatkan peluang ini dengan mengajukan permohonan bebas visa Schengen Uni Eropa. Setelah melakukan 15 kali persidangan, Parlemen Uni Eropa pada sidang paripurna pada November lalu memutuskan mendukung solusi Taiwan. Uni Eropa dengan resmi menyepakati permintaan bebas visa untuk semua negara anggotanya bagi warga Taiwan pada 25 November 2010.

Dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, maka layanan bebas visa telah bertambah 43 negara dan wilayah. Dari 96 negara tujuan ini, 94 persen merupakan negara yang kerap didatangi oleh warga Taiwan.

Menteri Luar Negeri Taiwan Timothy Yang menyatakan, setelah memperoleh bebas visa Schengen dari Uni Eropa, target bebas visa dari seratus negara kepada warga Taiwan bukanlah hal yang tidak mungkin tercapai.

Kemlu Taiwan berharap kebijakan "diplomasi fleksibel" bukan saja memudahkan pulau itu berbubungan dengan dunia internasional, tapi juga dapat mengangkat martabat Taiwan menjadi dihormati dan disegani.

Sejak Ma menjabat Presiden Taiwan pada Mei 2008, Inggris membebaskan visa untuk wisatawan Taiwan pada Maret 2009, kemudian disusul oleh Irlandia dan Selandia Baru pada Oktober 2009. Fiji pada Oktober 2010 memberikan layanan kunjungan bebas visa selama 4 bulan bagi pemegang paspor Taiwan, disusul dengan Kanada dan Uni Eropa pekan lalu.

sumber : Ant
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement