Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Teleskop Hubble Temukan Awan Hidrogen Mengarah ke Galaksi Bima Sakti

Ahad 31 Jan 2016 18:35 WIB

Red: Ani Nursalikah

Sebuah gambar yang menunjukkan ukuran dan lokasi dari Smith Cloud, dalam panjang gelombang radio seperti diamati oleh Telescope Green Bank.

Sebuah gambar yang menunjukkan ukuran dan lokasi dari Smith Cloud, dalam panjang gelombang radio seperti diamati oleh Telescope Green Bank.

Foto: abc

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Para astronom di Teleskop Luar Angkasa Hubble menemukan adanya awan besar gas hidrogen tak terlihat yang mengarah ke galaksi manusia dengan kecepatan sekitar 1.130.000 kilometer per jam.

Awan hidrogen yang dinamai ‘Smith Cloud’  berjarak 11.000 tahun cahaya itu diperkirakan masuk ke galaksi Bima Sakti dalam 30 juta tahun, memicu ledakan spektakuler pembentuk bintang, dan kemungkinan menyediakan cukup gas untuk membuat dua juta matahari.

Meski ada ratusan awan gas yang dikenal di seluruh galaksi, Smith Cloud yang dinamai seperti mahasiswa doktoral bidang astronomi ‘Gail Smith’ mendeteksi gelombang radio yang dipancarkan oleh hidrogen. Dia dianggap unik karena lintasannya dikenal para ilmuwan.

Pengamatan teleskop Hubble terbaru menunjukkan, awan itu diluncurkan dari daerah luar cakra galaksi sejak sekitar 70 juta tahun yang lalu -dan setelah awalnya menjauh -sekarang melengkung kembali kea rah galaksi Bima Sakti. Para astronom mengatakan, jika awan bisa dilihat dalam cahaya yang tampak, ia akan membentang di seluruh langit dengan penampakan diameter 30 kali lebih besar dari bulan purnama.

"Awan itu adalah contoh bagaimana galaksi berubah seiring berjalannya waktu," jelas ketua tim dari Institut Ilmu Teleskop Luar Angkasa di Baltimore, Maryland, Andrew Fox.

"Ini memberitahu kita galaksi Bima Sakti sungguh dinamis, tempat yang sangat aktif di mana gas bisa dibuang dari satu bagian cakra dan kemudian kembali kembali ke dalam lagi,” tambahnya.

Ia menerangkan, "Galaksi kita mendaur ulang gasnya melalui awan, Smith Cloud menjadi salah satu contohnya, dan akan membentuk bintang di tempat yang berbeda dari sebelumnya.”

"Pengukuran Smith Cloud yang dilakukan Hubble membantu kami untuk memvisualisasikan seberapa aktif cakra galaksi ini," sambungnya.

Tim ilmuwan itu menggunakan teleskop untuk mengukur komposisi kimia awan tersebut guna menentukan dari mana asalnya serta menemukan bahwa awan itu kaya belerang, sesuai dengan cakra terluar dari galaksi Bima Sakti.

Temuan menunjukkan, Smith Cloud berasal dari galaksi kita sendiri dan diperkaya oleh bintang-bintang, bukan dari luar galaksi, karena jika memang begitu ia akan terdiri dari hidrogen murni. Tapi masih ada pertanyaan seputar apa yang meluncurkannya dari galaksi Bima Sakti dan bagaimana ia bisa tetap utuh. Penelitian tim tersebut akan muncul di jurnal The Astrophysical Journal Letters.

 

Baca juga: Sejarah Hari Ini: Simpanse Ham Kembali dengan Selamat dari Angkasa

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA