Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Lebih dari 20 Ribu Orang Terkena Campak di Madagaskar

Kamis 07 Feb 2019 16:28 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Andi Nur Aminah

Anak terkena penyakit campak.

Anak terkena penyakit campak.

Foto: babble.co
Setidaknya 300 orang meninggal karena campak, yang kebnayakan adalah anak-anak.

REPUBLIKA.CO.ID, ANTANANARIVO, MADAGASKAR -- Negara di kepulauan lepas pantai Afrika Timur, Madagaskar mengalami wabah campak terburuk dalam beberapa dekade. Sekretaris Jendral Kementerian Kesehatan Negara tersebut mengatakan, lebih dari 50 ribu orang telah menderita penyakit ini sejak Oktober 2018. "Setidaknya 300 orang meninggal karena campak, yang kebnayakan adalah anak-anak," katanya dilansir CNN, Kamis (7/2).

Campak didera salah satu keluarga Magadaskar, Hasina Raharimandimby. Selama tiga hari pilu di akhir Februari, tiga anaknya meninggal karena campak. "Aku rindu membawakan mereka permen dan makanan ringan setiap kali aku pulang kerja," keluhnya. "Kami dulu bermain bersama dan memberi makan burung-burung di dekat rumah kami," katanya sedih.

Hasina membawa anak bungsunya yang masih hidup ke klinik di lereng bukit di Pusat Antananarivo sebab menderita batuk. Usai saudara-saudarnya meninggal, anak bungsunya segera divaksinasi. UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia tengah mengatur vaksinasi besar-besaran saat ini di Afrika.

Meskipun, dokter mengatakan kepada Hasina, bahwa batuk yang diderita anaknya adalah hal biasa dan tak perlu berlebih dikhawatirkan, Hasina tetap menghawatirkan kondisi kesehatan anaknya. "Dokter bilang itu hanya flu biasa," kata dia.

Padahal, oleh sebab kelangkaannya di negara yang relatif maju, campak terkadang keliru dianggap sebagai virus ringan dengan dampak yang terbatas. Namun, virusnya dapat bertahan dengan cepat dan menyebabkan ensefalitis, tuli dan dalam kasus-kasus ekstrem menyebabkan kematian. Hal itu terjadi terutama ketika seorang pasien kekurangan gizi atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Anak-anak Hasina sakit selama beberapa hari sebelum mereka mengalami kondisi memburuk dan akhirnya meninggal. Dia mengatakan, ketiga anaknya tidak dapat mengakses vaksin campak di klinik ketika diperlukan. "Ini sulit dan pahit sekali bagi saya. Kamu tidak selalu bisa mencegah kematian, tetapi ibu harus melakukan semua yang mereka bisa untuk melindungi anak-anak mereka," ujarnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat vaksin campak efektif pertama dikembangkan pada awal 1960-an. Sebelum itu, diperkirakan ada 2,6 juta kematian per tahun akibat virus tersebut. Pada 2017, sekitar 110 ribu orang meninggal akibat campak, sebagian besar anak-anak di bawah lima tahun.

Meski demikian, kurangnya pemahaman campak dan munculnya keyakinan anti-vaksinasi berdasarkan ilmu palsu dan media sosial yang memicu teori konspirasi, telah menempatkan celah bagi negara-negara yang dilindungi dengan baik seperti Amerika Serikat dan Prancis. Di negara seperti Madagaskar, di mana mereka masih berjuang melawan wabah mematikan, dapat membuat dokter geram.

"Ini adalah masalah mentalitas, karena kita perlu meyakinkan orang-orang itu. Mungkin mereka tidak tahu alasan mengapa kita harus divaksinasi. Tidak hanya orang-orang di negara-negara miskin tidak berpendidikan baik," ujar dokter Andosoa Rakotoarimanana, direktur Rumah Sakit Anak Ambohimiandra di ibu kota Madagaskar

Andosoa berharap bahwa cakupan vaksinasi akan mencapai tingkat yang lebih tinggi, ketika dorongan vaksinasi berlanjut. Namun, tetap imunisasi rutin masih merupakan standar emas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA