Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Perdana, Virus Ebola Dikonfirmasi Lewati Perbatasan

Rabu 12 Jun 2019 12:19 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Petugas medis ebola bekerja di pusat kesehatan di Beni, Kongo bagian Timur.

Petugas medis ebola bekerja di pusat kesehatan di Beni, Kongo bagian Timur.

Foto: AP Photo/Al-hadji Kudra Maliro
Kongo mengalami wabah ebola terburuk dalam sejarah.

REPUBLIKA.CO.ID, KAMPALA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan seorang anak laki-laki berusia lima tahun dari Republik Demokratik Kongo menerima perawatan sebab terkena virus ebola di Uganda. Virus tersebut dikonfirmasi sebagai kasus pertama yang mulai melintasi perbatasan internasional sejak wabah ebola menyebar tahun lalu.

Banyak peringatan tentang kasus potensial telah dilacak di Uganda sejak wabah Kongo dimulai, namun kali ini adalah infeksi pertama yang dikonfirmasi. Bocah berusia lima tahun itu melintasi perbatasan dengan keluarganya pada 9 Juni. Hingga kini, ia dilaporkan menerima perawatan di fasilitas medis di Uganda barat.

Komite Penyelamatan Internasional, sebuah organisasi bantuan yang telah memerangi wabah di Kongo, mengatakan kekhawatiran dari perkembangan virus tersebut. "Penyebaran ebola di perbatasan internasional adalah sinyal yang jelas bahwa komunitas internasional harus mengatur ulang dan melipatgandakan upayanya," katanya dilansir Financial Times, Rabu (12/6).

Para ahli sebelumnya telah memperingatkan jika virus itu melintas ke negara tetangga, maka akan mewakili eskalasi dari krisis yang sudah lepas kendali. Kementerian kesehatan Kongo mengatakan sejak kasus ebola pertama teridentifikasi pada Agustus tahun lalu, 1.390 orang telah meninggal. Wabah virus ebola menjadi wabah terburuk dalam sejarah negara itu.

Sebelumnya, ebola jarang mengemuka sebab vaksin tersedia dan otoritas Kongo telah berhasil menahan wabah ebola. Kendati demikian, konflik wilayah dengan kekerasan di Kongo timur dikombinasikan dengan kecurigaan terhadap pekerja bantuan di antara penduduk setempat telah membuat wabah saat ini jauh lebih sulit untuk diatasi.

Pada 2014, sebuah epidemi ebola di Afrika barat yang terkonsentrasi di Liberia, Guinea, dan Sierra Leone telah menewaskan lebih dari 11 ribu orang. Selain peristiwa itu, tidak ada wabah sebelumnya yang menewaskan lebih dari 300 orang,

Selama setahun terkahir sejak Agustus, WHO juga mencatat 2.000 orang terinfeksi, dengan dua pertiga dari jumlah tersebut meninggal dunia. Jumlah sebenarnya dari kematian akibat virus ebola pun dimungkinkan akan lebih tinggi karena banyak dari mereka yang terinfeksi memilih tidak dirawat dipusat kesehatan.

Butuh waktu tujuh bulan wabah mencapai 1.000 kasusnya, namun hanya tiga bulan untuk mencapai angka 2.000. Hal tersebut menandakan petugas kesehatan belum dapat menahan wabah mematikan itu di salah satu daerah paling rumit di dunia.

Seorang ahli mikrobiologi yang turut menemukan ebola pada  1976, Peter Piot mengatakan, Kongo Timur adalah lingkungan sulit untuk mengendalikan epidemi karena konflik bersenjata dan ketidakpercayaan masyarakat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA