Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Kerabat Gelar Shalat Ghaib untuk Khashoggi

Sabtu 03 Nov 2018 12:56 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Ratna Puspita

Ilustrasi Jamal Khashoggi

Ilustrasi Jamal Khashoggi

Foto: Foto : MgRol112
Dalam acara tersebut, rekaman suara tunangan Khashoggi diperdengarkan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sejumlah kerabat jurnalis Jamal Khashoggi menggelar shalat ghaib pada Jumat (2/11) di Washington, kota tempat Khashoggi tinggal sebelum ia terbunuh sebulan lalu. Warga negara Saudi itu tewas di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober dan Pemerintah Turki telah menyatakan tubuhnya dimutilasi setelah dibunuh.

Aksi shalat ghaib ini dihadiri oleh rekan-rekan Khashoggi, politisi AS, aktivis hak asasi, dan para pembangkang Saudi. Pembakang yang hadir termasuk Abdullah al-Awdah, yang ayahnya, sarjana Islam reformis Salman al-Awdah, saat ini ditahan oleh Arab Saudi.

Al-Awdah mengatakan kepada Aljazirah bahwa tidak pernah terlambat bagi AS untuk melakukan pendekatan yang lebih kritis terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Saudi. "(Tanggapan AS) terlambat dan tertunda, kami kecewa kami telah kehilangan Jamal agar AS menyadari ada penindasan di Arab Saudi," kata dia.

"Sementara teman-teman jurnalis Jamal kini telah diarahkan ke pengadilan Saudi atas tuduhan terorisme," tambah dia.

Dalam acara tersebut, rekaman suara tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz, turut diperdengarkan. Ia menyerukan kepada pihak berwenang Saudi untuk membeberkan informasi tentang keberadaan tubuh Khashoggi, sehingga dia bisa dimakamkan dengan layak.

"Meskipun sebulan telah berlalu sejak pembunuhan Jamal. Tubuhnya masih belum diberikan kepada orang yang dicintainya dan pemakamannya masih belum dilakukan," ujar Cengiz.

Turki telah meminta otoritas AS menggunakan pengaruh mereka untuk menekan Saudi agar terbuka tentang lokasi jasad Khashoggi. 

Pendiri kampanye Justice for Jamal, Ahmed Bedier, mengatakan AS perlu bertindak tegas terhadap Saudi atau rezim otokratis lainnya di Timur Tengah. Mereka akan menargetkan para pembangkang yang tinggal di luar negeri.

Menurut Bedier, jika AS tidak bergerak untuk menghukum para pelaku pembunuhan Khashoggi maka sama saja AS mengirim pesan ke Saudi bahwa mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau lakukan dengan impunitas. "Ini mengirimkan pesan ke diktator lain di wilayah itu bahwa Anda dapat melakukan apa pun yang Anda inginkan kepada wartawan, dan AS akan menutup mata," kata Bedier.

Berbicara dalam aksi itu, anggota Kongres AS dari Partai Demokrat Gerry Connolly, yang mewakili distrik tempat Khashoggi tinggal, mengatakan kasus itu merupakan ujian bagi AS. "Siapa kita? Apakah ada hal-hal yang muncul di atas hubungan bilateral dan kepentingan pribadi? Berapa nilai kehidupan manusia?" tuturnya.

"Bisnis yang belum selesai adalah urusan yang belum selesai, AS harus berbicara dengan suara penuh pada masalah ini," tambah dia.

Tokoh terkemuka Partai Republik, seperti senator Lindsey Graham dan Marco Rubio, juga dengan tegas menolak penjelasan Saudi atas kematian Khashoggi. "Kami harus mengirim pesan yang jelas bahwa kami akan berdiri untuk nilai-nilai kami. Dan mereka yang mengikuti jalan yang ditetapkan oleh Arab Saudi akan menanggung akibatnya," ujar Graham.

Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan konsekuensi bagi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Namun, ia enggan mempertimbangkan sanksi berat terhadap Saudi, seperti membatalkan kesepakatan senjata. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA