Kamis 17 Jan 2019 12:30 WIB

Brasil akan Hapus Visa untuk Turis AS

Saat ini, warga AS warga membayar 44 dolar AS untuk dua tahun visa.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolanda
Wisatawan di sebuah hotel di pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil.
Foto: AP/Felipe Dana
Wisatawan di sebuah hotel di pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil.

REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA -- Menteri Pariwisata Brasil berencana menerapkan kebijakan meniadakan visa pengunjung bagi warga Amerika Serikat (AS). Pernyataannya tersebut muncul ketika Presiden baru Brasil Jair Bolsonaro berusaha membalikkan sektor pariwisata yang tertinggal dan membangun hubungan erat dengan AS.

Inisiatif visa ini merupakan bagian dari rencana Kementerian Luar Negeri Brasil untuk 100 hari pertama bagi pemerintahan Bolsonaro. Ia mulai menjabat pada 1 Januari. 

"Niat kami benar-benar untuk menghilangkan aplikasi visa untuk orang Amerika," ujar Menteri Pariwisata Brazil Marselo Antonio seperti dikutip Reuters, Kamis (17/1).

Bolsonaro adalah presiden sayap kanan yang terpilih. Dia juga dikenal sebagai pengagum terbuka Presiden AS Donald Trump. Bolsonaro mengampanyekan untuk menyelaraskan kembali Brasil dengan AS, yang tidak seperti pemerintah Partai Buruh kiri yang memimpin negara itu selama 13 dari 15 tahun terakhir dan memilih hubungan dengan sesama negara berkembang.

"Kiri telah memperlakukan AS sebagai musuh, tetapi bukan pemerintah kami," kata Antonio. Brasil merupakan negara ekonomi terbesar di Amerika Latin meski telah lama hilang pada bidang pariwisata. Negara ini kini menerima 6,6 juta turis asing per tahun, atau kira-kira setengah dari New York City saja.

Brasil juga akan menghilangkan visa untuk Kanada, Jepang dan Australia. Namun, waktunya belum ditentukan.

Saat ini, warga AS warga membayar 44 dolar AS untuk dua tahun visa, atau 160 dolar AS untuk 10 tahun. "Rencana lain perbaikan kebijakan pariwisata termasuk menghabiskan iklan pariwisata untuk lebih dari 34 juta dolar AS hingga 2023," kata Antonio.

Target hingga tahun 2022, Antonio mengatakan, kunjungan internasional mencapai 12 juta per tahun. "Pemerintah juga mengupayakan untuk bekerja sama dengan perusahaan swasta, seperti penerbangan semisal," tutup Antonio.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement