Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

Perubahan Iklim dan Pengaruh AS Jadi Ancaman Paling Ditakuti

Senin 11 Feb 2019 08:03 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani

 Perubahan Iklim

Perubahan Iklim

Foto: Reuters
Kekhawatiran terhadap perubahan iklim naik tajam sejak tahun 2013.

REPUBLIKA.CO.ID,  BERLIN -- Jajak pendapat yang dilakukan lembaga penelitian Pew Research Center menunjukkan perubahan iklim, ISIS dan pengaruh Amerika Serikat menjadi ancaman-ancaman yang paling ditakuti warga beberapa negara. Berdasarkan jajak pendapat 13 dari 26 negara menyatakan perubahan iklim ancaman keamanan terbesar bagi mereka.

Sementara itu ada delapan negara yang melihat ISIS sebagai ancaman terbesar bagi keamanan nasional mereka. Laporan Pew Research Center yang dirilis, Senin (11/2) juga mengungkapkan ada empat negara yang melihat serangan siber sebagai ancaman terbesar.

Kekhawatiran terhadap perubahan iklim naik tajam sejak tahun 2013. Persentasenya naik sebanyak dua digit di beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS), Prancis, Inggris, Afrika Selatan dan Kenya. Jajak pendapat ini melibatkan 27.612 orang dan dilakukan dari bulan Mei sampai bulan Agustus 2018.

Program nuklir Korea Utara dan ekonomi global juga menjadi kekhawatiran. Sementara itu responden-responden di Polandia menganggap kekuatan dan pengaruh Rusia sebagai ancaman terbesar untuk mereka.

Perubahan terbesar ada pada sentimen terhadap Amerika Serikat. Laporan Pew Reaserch Center menyebutkan median 45 persen orang menyatakan kekhawatiran mereka terhadap kekuataan dan pengaruh AS. Sentimen anti-AS ini naik sebanyak 25 persen dibandingkan tahun 2013 ketika Barack Obama masih menjadi presiden AS.

Setengah atau lebih warga 10 negara termasuk Jerman, Jepang dan Korea Selatan menyatakan khawatiran mereka dengan kekuatan dan pengaruh AS. Angkanya naik sebanyak delapan persen pada tahun 2017 dan tiga persen pada tahun 2013.

Di Meksiko ketakutan terhadap kekuatan dan pengaruh AS lompat menjadi 64 persen ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden AS. Trump kerap menyerang imigran ilegal dan  North American Free Trade Agreement (NAFTA). Sampai saat ini ia juga masih bertekad untuk membangun tembok perbatasan antar kedua negara.

Pada tahun 2018 median 61 persen responden yang mewakili seluruh negara melihat serangan siber sebagai ancaman. Naik dari tahun 2017 yang hanya sebanyak 54 persen. ISIS masih berada di dua digit sebagai ancaman terbesar di Israel, Spanyol, AS dan Jepang.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB