Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Garda Revolusi Iran Tembak Jatuh Drone AS

Kamis 20 Jun 2019 10:58 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah

Pasukan militer elite Iran, Garda Revolusi Iran (IRGC).

Pasukan militer elite Iran, Garda Revolusi Iran (IRGC).

Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi
Ketegangan AS-Iran dimulai sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir 2015.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan telah menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak atau drone milik Amerika Serikat (AS), Kamis (20/6). Pesawat tersebut dikatakan memasuki wilayah udara negara tersebut, tepatnya dekat dengan distrik Kouhmobarak, Provinsi Hormozgan.

Baca Juga

Menurut laporan kantor berita negara IRNA, pasukan garda revolusi telah mengindentifikasi drone milik AS tersebut berjenis RQ-4 Global Hawk. Meski demikian,  militer AS belum memberikan komentar terkait penembakan pesawat tak berawak itu.

Seorang juru bicara Komando Pusat AS Bill Urban menolak berkomentar mengenai penembakan pesawat tak berawak milik negaranya. Laporan penembakan drone yang dilakukan Iran kali ini juga datang menyusul ketegangan antara Teheran dan Washington dalam beberapa waktu terakhir.

Ketegangan antara AS dan Iran telah dimulai sejak keputusan penarikan AS dari perjanjian nuklir 2015. Hal itu kemudian diperburuk dengan langkah Washington yang memberikan sejumlah sanksi untuk menekan Iran, mulai dari larangan ekspor minyak, hingga sejumlah sanksi ekonomi yang dikenakan kepada individu dan para pelaku bisnis.

AS juga telah menggunakan ancaman militer dengan mengerahkan kapal perang dan satuan pengebom ke Timur Tengah dengan alasan potensi ancaman Iran. Bahkan, pada akhir pekan lalu, tim keamanan nasional negara itu akan mempertimbangkan pengiriman pasukan militer tambahan ke kawasan regional tersebut.

Sebelumnya, pada Mei lalu terdapat 1.500 tentara AS yang dikirim ke Timur Tengah setelah serangkaian serangan kapal tanker minyak Arab Saudi di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA). Saat itu, Iran telah dituding berada di balik insiden, meski dibantah dengan tegas oleh negara tersebut.

Dengan tekanan yang terus meningkat, khususnya atas ancaman AS melalui tindakan militer,  Pemerintah Iran pada 8 Mei lalu telah memutuskan menangguhkan beberapa kesepakatan dalam Perjanjian Nuklir 2015. Dalam sebuah pernyataan, Presiden Hassan Rouhani mengatakan Teheran akan tetap memiliki kelebihan uranium yang diperkaya. Negara itu tidak akan menjualnya, seperti yang diminta dalam perjanjian nuklir tersebut.

Sejumlah pengamat telah mengatakan AS harus berhati-hati agar tidak membuat situasi Iran seperti Irak. Di era mantan presiden George W Bush, AS melakukan invasi di Irak dengan alasan mengutip infomasi intelijen mantan presiden Irak Saddam Hussein memiliki hubungan dengan Alqaidah dan secara diam-diam negaranya mengembangkan senjata nuklir, kimia, dan biologi. Namun, kedua tuduhan tersebut terbukti salah.

Dalam sebuah pernyataan, seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan Trump sebenarnya ingin meningkatkan hubungan diplomatik dengan Iran. Pria berusia 72 tahun itu juga secara pribadi memiliki kekhawatiran atas sikap beberapa penasihatnya, seperti John Bolton yang kerap mempelopori kebijakan untuk menekan dan pada akhirnya mendorong perang dengan Iran.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA