Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Wednesday, 6 Safar 1442 / 23 September 2020

Militer Myanmar Terbitkan Foto Palsu untuk Sudutkan Rohingya

Jumat 31 Aug 2018 10:41 WIB

Rep: Marniati/ Red: Teguh Firmansyah

Militer Myanmar di negara bagian Rakhine yang merupakan wilayah Muslim Rohingya tinggal.

Militer Myanmar di negara bagian Rakhine yang merupakan wilayah Muslim Rohingya tinggal.

Foto: AP Photo
Foto menyebut umat Budha dibunuh oleh Rohingya.

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON -- Tentara Myanmar menerbitkan sebuah buku yang menceritakan tentang krisis Rohingya. Dalam buku itu terdapat  foto-foto yang menggambarkan kekejaman oleh Rohingya.

Sebuah foto hitam-putih menunjukkan seorang lelaki berdiri di atas dua mayat, sambil memegang alat pertanian. "Bengali membunuh etnis lokal secara brutal", tulis keterangan di bawah foto.

Foto itu muncul di bagian buku yang mencakup kerusuhan etnis di Myanmar pada 1940-an. Keterangan foto menyebutkan bahwa umat Buddha dibunuh oleh Rohingya. Rohingya disebut sebagai "Bengali" untuk menyiratkan bahwa mereka adalah imigran gelap.

Reuters melakukan pemeriksaan untuk mengecek keaslian foto itu. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa foto itu diambil selama perang kemerdekaan Bangladesh  1971. Saat itu ratusan ribu orang Bangladesh dibunuh oleh pasukan Pakistan.

Ini adalah salah satu dari tiga foto yang muncul dalam buku itu. Buku diterbitkan pada Juli oleh departemen militer hubungan masyarakat Myanmar. Foto itu telah disalahpahami sebagai gambar arsip dari negara bagian barat Rakhine.

Baca juga, PBB Ungkap Kekejaman Militer Myanmar Terhadap Rohingya.

Bahkan, Reuters menemukan  dua foto aslinya diambil di Bangladesh dan Tanzania. Foto ketiga diberi label palsu karena menggambarkan Rohingya memasuki Myanmar dari Bangladesh. Padahal kenyataannya  para migran meninggalkan negara itu.

Juru bicara pemerintah Zaw Htay dan juru bicara militer tidak dapat dihubungi untuk mengomentari keaslian gambar-gambar itu. U Myo Myint Maung, sekretaris tetap di Kementerian Penerangan, menolak berkomentar. Ia mengaku belum membaca buku itu.

Buku setebal 117 halaman itu berjudul "Myanmar Politics and the Tatmadaw: Part I". Isi buku menceritakan narasi militer Agustus tahun lalu, ketika sekitar 700 ribu Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Menurut badan-badan PBB, peristiwa ini memicu adanya pembunuhan massal, perkosaan, dan pembakaran. Tatmadaw adalah nama resmi militer Myanmar.

Sebagian besar konten bersumber dari unit informasi "True News" militer. Unit ini sejak awal krisis telah menyebarkan berita yang mendukung tentara. Sebagian besar berita disebarkan melalui Facebook.

Buku ini dijual di seluruh toko buku di  ibu kota  Yangon. Seorang anggota staf di Innwa, salah satu toko buku terbesar di kota itu, mengatakan 50 eksemplar buku yang dipesan telah terjual habis. Tetapi toko tidak memiliki rencana untuk memesan lebih banyak. "Tidak banyak orang yang mencarinya," kata penjual buku itu.

Pada  Senin, Facebook melarang panglima militer dan pejabat militer lainnya  menggunakan sosial media itu untuk mengobarkan ketegangan etnis dan agama. Pada hari yang sama, PBB menuduh Jenderal Senior Min Aung Hlaing melakukan aksi mengarah genosida. PBB merekomendasikan dia dan pejabat senior lainnya dituntut atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam buku barunya, militer membantah tuduhan pelanggaran. Militer menyalahkan kekerasan pada "teroris Bengali" yang dikatakannya bermaksud membentuk negara Rohingya bernama "Arkistan".

Serangan oleh militan Rohingya yang menyebut diri mereka Arakan Rohingya Salvation Army disebut sebagai pemicu gerakab militer pada Agustus 2017 di negara bagian Rakhine. Para penyelidik PBB mengatakan 10 ribu orang  telah tewas.

Buku ini juga berusaha menelusuri sejarah Rohingya yang membuat mereka menjadi penyelundup dari Bangladesh. Rohingya  menganggap diri mereka sebagai penduduk asli Myanmar barat.

Dalam pengantar buku itu, penulis, yang terdaftar sebagai Letnan Kolonel Kyaw Kyaw Oo, mengatakan teks tersebut disusun menggunakan "foto dokumenter" dengan tujuan "mengungkap sejarah orang Bengali".

"Dapat ditemukan bahwa setiap kali terjadi perubahan politik atau konflik bersenjata etnis di Myanmar, orang-orang Bengali menganggapnya sebagai peluang," tulis buku itu. Ia menambahkan, umat Islam mengambil keuntungan dari ketidakpastian transisi demokrasi di Myanmar untuk memicu "pertikaian agama" .

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA