Rabu 13 Feb 2019 02:00 WIB

Wabah Campak Filipina karena Kurangnya Vaksin

Krisis campak di Filipina telah meningkat sejak awal tahun lalu.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah
Imunisasi polio dan campak pada balita (Ilustrasi)
Foto: Republika/Musiron
Imunisasi polio dan campak pada balita (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Filipina sedang didera wabah campak awal tahun ini. Sebanyak 70 orang, yang kebanyakan anak-anak, dilaporkan tewas. Wabah campak ini dituding sebagai reaksi terhadap vaksinasi.

Campak merupakan penyakit yang sangat menular, namun kekebalan tubuh penduduk dapat dicapai jika lebih dari 95 persen penduduk divaksinasi. Namun, menurut UNICEF, di Filipina, vaksinasi saat ini hanya 55 persen atau turun 15 persen pada tahun lalu. Hal ini disalahkan terutama karena khawatir atas inokulasi.

Baca Juga

Perwakilan UNICEF di Filipina Lotta Sylwander mengatakan, UNICEF sangat prihatin tentang wabah ini. "Imunisasi di Filipina telah menurun tajam dari 88 persen pada 2014 menjadi 73 persen pada 2017, yang meninggalkan 2,5 juta anak balita yang tidak divaksinasi campak. Ada keengganan orang tua memvaksinasi anak-anak mereka tepat waktu," kata Sylwander.

UNICEF mengatakan, membantu pemerintah lokal dan nasional dalam upaya vaksinasi nasional darurat. "Kematian anak-anak ini oleh penyakit campak, penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, tidak dapat diterima," kata Sylwander.

Krisis campak di Filipina telah meningkat sejak awal tahun lalu. Krisis terjadi setelah skandal vaksinasi demam berdarah membuat orang tua ragu-ragu memvaksinasi anak-anak mereka.

Dengvaxia, yang diberikan kepada anak-anak sekolah di seluruh negeri, dituduh membuat anak-anak berisiko tertular penyakit yang lebih serius. Kabarnya vaksin demam berdarah membuat kematian beberapa anak, meskipun tidak ada yang pernah terbukti.

Pada Januari 2019 terdapat 4.302 kasus campak di negara tersebut. Angka itu naik 122 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Wabah pun meluas sehingga status darurat di Metro Manila yang ditinggali 12 juta orang yang dilanda kemiskinan, ditetapkan pemerintah. Penentuan status darurat ini pun mengikuti 196 kasus yang dilaporkan pada Januari, dibandingkan dengan hanya 20 orang yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu. Di Manila, 55 anak di bawah usia empat tahun meninggal karena campak sejak awal tahun.

Kementerian Kesehatan negara mengumumkan wabah campak sebagai peringatan darurat di wilayah Luzon dan Visayas. "Kami menyatakan wabah karena kasus campak meningkat dalam beberapa minggu terakhir dan untuk memperkuat pengawasan kasus baru, kami mengingatkan ibu dan pengasuh untuk lebih waspada," kata Francisco Duque, sekretaris kesehatan, dalam sebuah pernyataan seperti dikutip The Guardian, Selasa (12/2).

Status darurat wabah campak yang mendera Filipina juga mengikuti dari laporan dari departemen kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan per Desember 2018, terdapat lebih dari 200 ribu kasus campak yang dilaporkan di Filipina. Angka tersebut mengalami peningkatan 500 persen pada tahun sebelumnya.

Menurut data dari Biro Epidemiologi, dari 70 yang telah meninggal karena campak sejak awal tahun, sebanyak 79 persen tidak divaksinasi. Wabah di Filipina ini mengikuti gelombang kasus campak yang mengkhawatirkan di seluruh dunia, yang sebagian besar disalahkan atas konspirasi dan kesalahan informasi seputar vaksinasi, terutama di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

WHO mencatat, ada peningkatan 30 persen pada kasus campak di seluruh dunia sejak 2016. Secara keseluruhan, Asia Tenggara adalah salah satu kawasan dengan peningkatan vaksinasi. 

Pada November tahun lalu, krisis campak dideklarasikan di selatan Thailand, yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi, meskipun penyakit itu dikatakan hampir diberantas di Thailand. Ada 4.000 kasus campak dilaporkan di Thailand tahun lalu, menyebabkan kematian setidaknya 22 anak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement