Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Jubir Jerman: Putin Khawatir Eskalasi Ukraina

Rabu 28 Nov 2018 03:43 WIB

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Nashih Nashrullah

 Dari kiri, Presiden Rusia Vladimir Putin, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron berpose di akhir konferensi pers setelah pertemuan puncak KTT Suriah, di Istanbul, Turki, Sabtu (27/10).

Dari kiri, Presiden Rusia Vladimir Putin, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron berpose di akhir konferensi pers setelah pertemuan puncak KTT Suriah, di Istanbul, Turki, Sabtu (27/10).

Foto: AP
Rusia mengklaim kapal Ukraina sengaja memprovokasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vldimir Putin dilaporkan telah berbicara kepada kanselir Jerman bahwa dirinya sangat khawatir akan eskalasi yang terjadi akhir pekan kemarin di Krimea dan menyusul kejadian di Ukraina. Kremlin mengatakan, Putin telah menyatakan keprihatinannya atas eskalasi dan darurat militer di Ukraina dalam percakapan telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel. 

"Putin mengatakan kepada Merkel ia meletakkan semua kesalahan untuk konfrontasi di Ukraina dan bahwa Ukraina memprovokasi itu karena alasan politik," ujar juru biacara Merkel, Steffen Seibert seperti dilansir Associated Press, Selasa (28/11).

Seibert juga mengatakan, Merkel dalam percakapan dengan Putin menekankan perlunya deeskalasi dan dialog. Pada Ahad (25/11), Rusia melepaskan tembakan ke tiga kapal angkatan laut Ukraina di Selat Kerch. Moskow mengklaim hal itu dilakukan karena ketiga kapal sengaja melakukan provokasi. 

Rusia akhirnya menawan ketiga kapal tersebut bersama 23 awaknya. Karena itu, Ukrania mengumumkan darurat militer antisipasi ancaman dari Rusia.

Kendati demikian, Ukraina menyangkal klaim Rusia. Menurut Kiev, pihaknya telah memberitahu Rusia tentang rute yang akan dilintasi ketiga kapal miliknya. 

Ukraina mengatakan, kapal-kapal tersebut yang hendak menuju Laut Azov, memang harus melewati Selat Kerch. Pascakejadian itu, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meminta Rusia dan Ukraina menahan diri guna menghindari eskalasi lebih lanjut. Sementara Polandia mengecam tindakan agresi Rusia. Warsawa menilai apa yang dilakukan Rusia telah melanggar hukum internasional.

Duta Amerika Serikat (AS) untuk PBB Nikki Haley mengatakan sesuai permintaan Ukraina, Dewan Keamanan PBB akan melakukan rapat mendadak untuk membahas peristiwa ini. Ketegangan antara Rusia dan Ukraina terjadi di Selat Kerch yang menghubungan Laut Azov dengan Laut Hitam.

Rusia membangun jembatan senilai 3,69 miliar dolar AS di selat tersebut setelah mereka mencaplok Krimea. Jembatan ini untuk menghubungan Rusia dengan semananjung tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin sudah meresmikan jembatan itu pada Mei lalu.

Badan Intelijen Rusia (FSB) mengatakan, ada tiga kapal angkatan laut Ukraina yang ditangkap. Mereka menggunakan senjata untuk menghentikan tiga kapal tersebut. Menurut Rusia ketiga kapal Ukraina itu memasuki wilayah mereka secara ilegal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA