Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Jerman Berupaya Selamatkan Kesepakatan Nuklir dengan Iran

Selasa 11 Jun 2019 12:08 WIB

Rep: deutsche-welle/ Red:

Menlu Jerman Heiko Maas Berada di Teheran Berupaya Selamatkan Kesepakatan Atom

Menlu Jerman Heiko Maas Berada di Teheran Berupaya Selamatkan Kesepakatan Atom

AS menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan Iran.

Semua persyaratan formal untuk sistem pembayaran berbasis barter antara Eropa dengan Iran bisa segera diterapkan, kata Menlu Jerman Heiko Maas setibanya di Iran hari Senin (10/6).

Sistem pembayaran barter Instex dirancang untuk menghindari sanksi AS terhadap Iran yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir.

"Ini adalah instrumen jenis baru, jadi tidak mudah untuk mengoperasionalkannya," kata Maas kepada wartawan. "Tapi semua persyaratan formal sudah ada sekarang, jadi saya berasumsi kita siap menggunakannya di masa mendatang."

Aliansi Inggris, Prancis dan Jerman

Dalam upaya untuk melindungi beberapa sektor ekonomi di Iran yang terkena sanksi AS, Inggris, Prancis dan Jerman sepakat membentuk sarana khusus pembayaran barter dengan Iran yang dinamakan Instex.

Ketiga negara berusaha menggalang perdagangan dengan Iran untuk menjaga komitmen Kesepakatan Atom, setelah Washington menarik diri dari kesepakatan itu. Instex menawarkan modus pembiayaan yang ditetapkan oleh Gugus Tugas Aksi Keuangan yang berbasis di Paris. Hingga kini Iran belum sepenuhnya setuju dengan penerapan Instex.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengeritik negara-negara Eropa atas gagalnya Kesepakatan Atom dari tahun 2015, yang ketika itu ditandatangani oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yaitu AS, Prancis, Inggris, Rusia, Cina ditambah Jerman.

Iran: Belum ada langkah praktis

"Sejauh ini, kami belum melihat langkah-langkah praktis dan nyata dari Eropa untuk menjamin kepentingan Iran ... Teheran tidak akan membahas masalah apa pun di luar kesepakatan nuklir," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Abbas Mousavi. Iran sebelumnya mengancam akan melanjutkan program atomnya setelah kesepakatan tahun 2015 gagal.

Presiden AS Donald Trump mengecam Perjanjian Atom Iran, yang ditandatangani oleh pendahulunya Barack Obama, yang disebutnya tidak memadai karena tidak mencakup program rudal balistik Iran atau perannya dalam konflik sekitar Timur Tengah. Trump lalu menyatakan AS menarik diri dari perjanjian tahun 2015 itu dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran. Trump juga menuntut perundingan ulang dengan Iran tentang program nuklirnya.

Para penandatangan dari Eropa, yaitu Prancis, Inggris dan Jerman, menolak kritik Trump dan memperingatkan pentingnya menyelamatkan kesepakatan itu untuk meredam ambisi Iran membuat senjata nuklir.

hp/ml (dpa, rtr)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA